Banyudono (Bimas Hindu) - Keterbatasan ketersediaan Guru Pendidikan Agama Hindu tidak menjadi alasan untuk menunda pemenuhan hak peserta didik dalam memperoleh layanan pendidikan agama. Semangat tersebut diwujudkan melalui langkah konkret Program Guru SAHADHARMA (Guru Sarana Hadirkan Dharma) di SMK Negeri 1 Banyudono.
Sebagai tindak lanjut atas laporan belum tersedianya Guru Pendidikan Agama Hindu bagi siswa beragama Hindu, Rta Wahyu Sri Pamungkas, Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Boyolali, melaksanakan audiensi layanan pendampingan keagamaan Hindu dengan Waka Kurikulum SMK Negeri 1 Banyudono, Elly Damayanti, Rabu (19/8/2026).
Audiensi ini menjadi bagian penting dalam membangun solusi layanan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi langsung menyentuh kebutuhan siswa. Melalui komunikasi dan koordinasi dengan pihak sekolah, dirumuskan langkah tindak lanjut berupa pendampingan keagamaan Hindu secara berkala.
Program Guru SAHADHARMA hadir sebagai inovasi percepatan layanan di tengah terbatasnya ketersediaan Guru Pendidikan Agama Hindu. Program ini dirancang untuk memastikan siswa Hindu tetap memperoleh pendampingan, pembinaan, serta penguatan nilai-nilai keagamaan secara berkelanjutan.
“Guru SAHADHARMA merupakan upaya menghadirkan layanan keagamaan Hindu lebih dekat kepada siswa. Keterbatasan tenaga pendidik tidak boleh membuat hak siswa untuk mendapatkan pembinaan agama terabaikan,” ujar Rta Wahyu Sri Pamungkas.
Dengan demikian, keberadaan Program Guru SAHADHARMA diharapkan memberikan manfaat nyata bagi siswa Hindu, terutama dalam memperoleh ruang pembelajaran, konsultasi, penguatan sradha dan bhakti, serta pendampingan dalam mengimplementasikan nilai-nilai Dharma dalam kehidupan sehari-hari.
Pendampingan secara aktif akan mulai dilaksanakan setiap hari Rabu mulai minggu mendatang. Langkah ini sekaligus menjadi bentuk sinergi antara Kementerian Agama dan satuan pendidikan dalam menghadirkan layanan keagamaan yang inklusif, responsif, dan berorientasi pada kebutuhan penerima layanan.
Program Guru SAHADHARMA menjadi bukti bahwa pelayanan tidak harus menunggu kondisi ideal. Ketika keterbatasan menjadi tantangan, inovasi dan kolaborasi dapat menjadi jalan untuk menghadirkan Dharma lebih dekat kepada mereka yang membutuhkan.
Kontributor: Rta Wahyu Sri Pamungkas, S.Pd.