Di Tengah Arus Teknologi, Kemenag Karangasem Perkuat Swadharma Pemangku dan Serati Banten

Kemenag Karangasem bina pemangku dan serati banten

Karangasem (Bimas Hindu) Perkembangan teknologi dinilai tidak boleh mengurangi kualitas batin, ketulusan, dan disiplin spiritual seorang pemangku dalam menjalankan swadharma. Pesan tersebut mengemuka dalam bimbingan kepemangkuan dan serati banten yang difasilitasi Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karangasem di Desa Adat Tarib, Kecamatan Rendang, Sabtu (22/8/2026).

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Pasraman Kilat Desa Adat Tarib tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas para pelayan umat, khususnya Jero Mangku dan Serati Banten, dalam menjaga kesucian upakara sekaligus merawat tradisi keagamaan di tengah perubahan zaman.

Penyuluh Agama Hindu I Gusti Ananjaya mengatakan pendampingan kepada pemangku dan serati banten penting dilakukan agar kemajuan teknologi berjalan beriringan dengan penguatan spiritual dan pelestarian seni sakral.

“Di tengah derasnya arus teknologi, penguatan disiplin spiritual dan pelestarian seni sakral upakara menjadi sangat penting agar nilai-nilai kesucian, ketulusan, dan tradisi warisan leluhur tetap terjaga dengan baik,” ujar Ananjaya.

Materi kepemangkuan disampaikan Jero Mangku Kadek Abdhi Yasa dari STAHN Mpu Kuturan. Pembinaan menitikberatkan pada etika, sikap, dan disiplin spiritual seorang pemangku atau sesananing kepemangkuan.

Pemangku didorong untuk tetap menempatkan kesadaran, keteguhan, dan pengendalian diri sebagai fondasi dalam menjalankan swadharma, termasuk ketika nganteb bakti upakara. Kemajuan teknologi diharapkan menjadi sarana pendukung tanpa menggeser kualitas batin dan ketulusan dalam pelayanan keagamaan.

Pembinaan juga menyentuh aspek seni sakral agem-agaman ngamong genta. Peserta mendapatkan pemahaman mengenai teknik, sikap tubuh, serta ketepatan gerak. Keselarasan olah tubuh, harmoni suara genta, dan kesadaran spiritual menjadi bagian penting dalam menjaga kesakralan pelaksanaan upacara.

Sementara bagi serati banten, pembinaan diarahkan pada penguatan pemahaman mengenai tata cara sekaligus sikap batin dalam merangkai banten. Setiap unsur upakara tidak semata-mata dipandang sebagai hasil keterampilan teknis, tetapi memiliki makna filosofis yang perlu dipahami.

Karena itu, proses pembuatan banten ditekankan sebagai bagian dari wujud bhakti yang harus dilandasi ketulusan dan pemahaman spiritual.

Bimbingan tersebut diikuti para Jero Mangku dan Serati Banten Desa Adat Tarib. Bendesa Adat Tarib bersama jajaran prajuru turut mengapresiasi pembinaan yang dinilai relevan dengan tugas keseharian pemangku dan serati banten serta mendukung penguatan kapasitas spiritual di lingkungan desa adat.

Kontributor : Finxi


Berita Daerah LAINNYA