Boyolali (Bimas Hindu) – Keterbatasan guru Pendidikan Agama Hindu di Kabupaten Boyolali tidak menjadi penghalang bagi siswa Hindu untuk memperoleh pembinaan keagamaan. Melalui layanan Penyuluh Agama Hindu, pendampingan tetap diberikan kepada peserta didik di sekolah yang belum memiliki guru Pendidikan Agama Hindu definitif.
Layanan tersebut salah satunya dilaksanakan di SMA Negeri 1 Cepogo, Jumat (21/8/2026). Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Boyolali, Agung Puji Widoyo, memberikan bimbingan rohani kepada siswa Hindu sebagai bagian dari pendampingan keagamaan secara berkelanjutan.
Menurut Agung, kehadiran penyuluh di sekolah menjadi bagian dari upaya memastikan siswa Hindu tetap memperoleh pembinaan sekaligus memiliki ruang untuk memahami dan menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.
“Pembinaan ini menjadi bagian dari upaya agar adik-adik tetap mendapatkan pendampingan keagamaan meskipun sekolah belum memiliki guru Pendidikan Agama Hindu definitif. Yang terpenting, proses pembinaan dan penguatan nilai-nilai agama tetap berjalan,” ujar Agung.
Dalam bimbingan tersebut, Agung menyampaikan materi mengenai Catur Paramita, yang terdiri atas Maitri atau sikap bersahabat, Karuna atau welas asih, Mudita atau turut merasakan kebahagiaan orang lain, serta Upeksa yang berkaitan dengan toleransi dan keseimbangan batin.
Ia mengajak para siswa menjadikan Catur Paramita sebagai pedoman dalam membangun hubungan dengan teman, guru, maupun seluruh warga sekolah. Nilai-nilai tersebut dinilai relevan untuk membentuk sikap yang positif, terlebih siswa Hindu berada dalam lingkungan sekolah yang memiliki keberagaman latar belakang.
“Catur Paramita bukan hanya untuk dipahami, tetapi perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Dengan Maitri, Karuna, Mudita, dan Upeksa, anak-anak dapat belajar menjadi pribadi yang mampu menghargai orang lain, menjaga hubungan baik, serta menghadapi perbedaan dengan bijaksana,” katanya.
Agung juga mengingatkan siswa Hindu agar mampu menjaga sikap dan perilaku di lingkungan sekolah. Sebagai bagian dari kelompok minoritas, setiap tindakan siswa perlu mencerminkan nilai-nilai positif sehingga keberadaan umat Hindu dapat memberikan kontribusi yang baik bagi lingkungan sekolah.
“Perilaku kita akan selalu menjadi perhatian karena di sekolah ini kita merupakan golongan minoritas. Sekecil apa pun kesalahan yang kita perbuat, dampaknya dapat memengaruhi pandangan warga sekolah terhadap keberadaan kita. Oleh karena itu, saya harapkan adik-adik harus menjadikan Catur Paramita sebagai landasan bertindak agar siswa Hindu senantiasa membawa kesejukan, menjaga nama baik diri, serta mengharumkan nama agama dan sekolah,” ujar Agung.
Pembinaan yang dilaksanakan secara rutin setiap Jumat tersebut tidak hanya diarahkan pada pemahaman materi keagamaan, tetapi juga pada pembentukan karakter siswa. Nilai-nilai Hindu diharapkan dapat menjadi bekal bagi peserta didik dalam menghadapi kehidupan sosial yang beragam.
Melalui pendampingan yang berkelanjutan, siswa Hindu di SMA Negeri 1 Cepogo diharapkan tetap mendapatkan hak pembinaan pendidikan keagamaan sekaligus tumbuh sebagai pribadi yang berkarakter, toleran, dan mampu menunjukkan prestasi di lingkungan sekolah.
Kontributor : I Made Juni Saputra