Merauke (Bimas Hindu) – Kehangatan dan semangat kebersamaan mewarnai persiapan menjelang piodalan atau odalan Pura Jagad Karana SP IX, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Menjelang hari puncak upacara yang bertepatan dengan Purnama Katiga, umat Hindu setempat menggelar tradisi kenduri atau selamatan bersama, Selasa (25/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian persiapan keagamaan sekaligus momentum untuk mempererat silaturahmi antarumat Hindu. Melalui kenduri, umat memanjatkan doa dan permohonan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar seluruh rangkaian piodalan berlangsung lancar serta seluruh umat diberikan kerahayuan.
Tradisi kenduri yang berakar dari kebudayaan Jawa tersebut dihadiri Sekretaris PHDI Provinsi Papua Selatan Rudiantoro, S.Ag., Ketua PSN Provinsi Papua Selatan Jro Mangku Gde Dwiyono, Penyelenggara Hindu Kementerian Agama Kabupaten Merauke Agus Supomo, S.Ag., bersama staf, para Pinandita dan Sarati, serta umat Hindu.
Kenduri selamatan dilaksanakan di Balai Wantilan Pura Jagad Karana. Umat duduk bersama mengelilingi banten atau sajian khas Jawa yang ditempatkan dalam nampan, berupa nasi tumpeng lengkap dengan lauk-pauk. Prosesi dipimpin Jro Mangku Gde Dwiyono menggunakan puja sesontengan dalam bahasa Jawa halus.
Jro Mangku Gde Dwiyono mengatakan kenduri tidak hanya menjadi bagian dari tradisi masyarakat Jawa, tetapi juga dapat menjadi sarana memperkuat spiritualitas umat Hindu. Menurutnya, tradisi tersebut memiliki makna penting sebagai bentuk matur piuning menjelang pelaksanaan piodalan.
“Acara kenduri ini merupakan budaya dan tradisi Jawa. Selain sebagai media matur piuning menyambut upacara piodalan pura, kenduri juga menjadi bagian dari penguatan spiritualitas umat Hindu,” ujar Dwiyono.
Hal senada disampaikan Jro Mangku Misno yang turut mendampingi pelaksanaan kenduri selamatan. Ia menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan bentuk permohonan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar seluruh tahapan piodalan diberikan kelancaran, mulai dari persiapan hingga upacara selesai.
“Kita melaksanakan kenduri selamatan ini untuk matur piuning, memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa supaya diberikan kelancaran dari awal hingga selesainya piodalan nanti dan semoga kita semua diberikan anugerah kerahayuan,” kata Misno.
Sebelum kenduri dilaksanakan, umat terlebih dahulu menggelar upacara matur piuning di Utama Mandala Pura Jagad Karana. Dalam prosesi tersebut dihaturkan sejumlah banten, antara lain pejati, sodan, dan segehan, yang dilanjutkan dengan persembahyangan bersama dipimpin Jro Mangku Gde Dwiyono.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan ngayah atau kerja bersama untuk mempersiapkan kebutuhan piodalan. Umat bergotong royong memasang wastra, tedung, senjata Dewata Nawa Sanggha, tenda, penjor, serta menyiapkan berbagai kelengkapan upakara, termasuk kegiatan mejejahitan.
Keterlibatan umat Hindu dari latar belakang Jawa dan Bali dalam seluruh rangkaian persiapan menjadi gambaran kuatnya kerukunan intern umat Hindu di Pura Jagad Karana. Perbedaan latar budaya justru menjadi kekuatan dalam membangun kebersamaan dan gotong royong dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan.
Kegiatan kenduri sekaligus ngayah tersebut menunjukkan bahwa tradisi lokal dapat berjalan selaras dengan praktik keagamaan Hindu. Nilai kebersamaan, gotong royong, dan spiritualitas yang terkandung di dalamnya menjadi modal penting dalam menjaga keberlanjutan kehidupan keagamaan umat Hindu di Tanah Miring.
Melalui kebersamaan tersebut, umat Hindu Pura Jagad Karana terus mempersiapkan pelaksanaan piodalan dengan penuh rasa syukur dan tulus ikhlas. Tradisi kenduri pun tidak hanya menjadi bagian dari persiapan upacara, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan dan kerukunan umat Hindu di Papua Selatan.
Kontributor : I Made Juni Saputra