Jaga Identitas Leluhur dari Gempuran Teknologi, Pelajar Hindu Kaubun Aktif Lestarikan Tari dan Tabuh

Kegiatan pelestarian seni tari dan tabuh gamelan

Kutai Timur (Bimas Hindu) — Dalam upaya merawat identitas dan kekayaan budaya leluhur di tanah perantauan, para tenaga pendidik di Pasraman Gita Saraswati, Desa Bumi Rapak, Kecamatan Kaubun, Kabupaten Kutai Timur, menginisiasi program ekstrakurikuler seni budaya bagi peserta didiknya. Kegiatan pelestarian seni tari dan tabuh gamelan ini dilaksanakan dengan penuh antusiasme pada Minggu (30/8/2026).

Program ekstrakurikuler ini dilaksanakan secara rutin usai para siswa menyelesaikan kegiatan belajar mengajar (KBM) pendidikan agama Hindu di dalam kelas. Langkah inovatif ini diambil agar anak-anak tidak hanya terpaku pada teori keagamaan, tetapi juga diajak untuk mengenali dan mempraktikkan langsung kekayaan budayanya. Di tengah derasnya arus kemajuan teknologi yang kerap membuat generasi muda abai terhadap kearifan lokal, pembelajaran seni ini menjadi benteng utama pelestarian tradisi Nusantara.

Salah satu tenaga pendidik Pasraman Gita Saraswati, I Gede Wilandana, mengungkapkan bahwa kegiatan keterampilan seni ini diupayakan berjalan secara konsisten setiap minggu atau selambat-lambatnya dua minggu sekali. Ia menyadari bahwa anak-anak, khususnya yang berada pada usia Sekolah Dasar (rentang 6 hingga 10 tahun), membutuhkan stimulasi belajar yang dinamis dan menyenangkan.

"Anak-anak seusia mereka pasti sering merasa jenuh jika hanya terus-menerus belajar teori agama tanpa adanya aktivitas pengimbang. Oleh karena itu, kegiatan ekstrakurikuler ini hadir untuk membuat anak-anak pasraman lebih aktif berkegiatan, yang mana hal ini sangat baik untuk melatih sensor motorik mereka," ungkap I Gede Wilandana.

Lebih lanjut, ia menjelaskan adanya benang merah kesejarahan yang memotivasi pengurus pasraman untuk terus bergerak. Mengingat mayoritas warga Hindu di Desa Bumi Rapak merupakan keluarga transmigran asal Bali yang telah menetap sejak era 1980-an, para tetua dan pendidik memiliki tanggung jawab moral yang besar agar generasi penerus mereka tidak tercerabut dari akar budayanya.

Melalui wadah pembinaan di pasraman, anak-anak perlahan namun pasti mulai dikenalkan kembali dengan identitas leluhurnya. Mereka tidak hanya diajarkan kesenian tari dan gamelan, tetapi juga keterampilan dasar keagamaan seperti tata cara pembuatan sesajen untuk sarana upacara adat.

Kehadiran program pendidikan seni terpadu di Pasraman Gita Saraswati ini diharapkan mampu mencetak generasi Hindu yang cerdas secara spiritual, sehat secara fisik, dan teguh menjaga budaya. Ke depannya, tunas-tunas muda yang kini tengah dibina diharapkan siap menerima tongkat estafet kepemimpinan untuk menggantikan peran para tetua, memastikan warisan budaya leluhur di tanah Kutai Timur tetap abadi melintasi zaman.

 

Kontributor: ANAK AGUNG GEDE RADA NUGRAHA PUTRA


Berita Daerah LAINNYA