Gunungkidul (Bimas Hindu) – Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) bekerja sama dengan Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Gunungkidul menggelar kegiatan pembinaan dan pelatihan bersanggul pada Minggu (19/07/2026) bertempat di Pura Derpokusumo, Ngepoh, Saptosari, Gunungkidul. Kegiatan religius-budaya yang diikuti oleh seluruh anggota WHDI dengan mengenakan busana adat Nusantara ini menjadi ruang pembelajaran kolektif sekaligus upaya nyata dalam melestarikan tradisi luhur serta memperkuat peran strategis perempuan Hindu di tengah kehidupan masyarakat modern.
Rangkaian kegiatan diawali dengan persembahyangan bersama yang dipimpin oleh Jro Mangku Tukijo dan Jro Mangku Sutarman. Doa bersama ini dipanjatkan sebagai ungkapan rasa syukur yang mendalam serta permohonan ke hadapan Sang Hyang Widhi Wasa agar seluruh rangkaian program pembinaan berjalan dengan aman, lancar, serta memberikan asas kemanfaatan yang berkelanjutan bagi seluruh peserta.
Ketua WHDI Kabupaten Gunungkidul, Yuli Widyaningsih, dalam sambutan pembukaannya menegaskan bahwa keterampilan bersanggul tidak sekadar berkaitan dengan aspek estetika atau keindahan lahiriah semata. Lebih dari itu, bersanggul mencerminkan identitas, kehormatan, dan keluhuran nilai budaya yang melekat pada sanubari perempuan Hindu.
"Bersanggul bukan sekadar tradisi merias diri, melainkan simbol kerapian, kehormatan, dan jati diri perempuan Nusantara. Ketika perempuan Hindu hadir dalam kegiatan keagamaan dengan busana adat yang rapi dan bersanggul, sesungguhnya mereka sedang menjaga martabat budaya sekaligus menunjukkan penghormatan terhadap nilai-nilai spiritual," tegas Yuli Widyaningsih.
Senada dengan hal tersebut, Pembina WHDI Kabupaten Gunungkidul, Sri Purwati, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas konsistensi jajaran pengurus dalam menghadirkan program kerja yang adaptif dan menyentuh kebutuhan nyata anggotanya. Menurutnya, pelatihan ini memiliki kemanfaatan praktis yang tinggi sekaligus membuka ruang pemberdayaan yang luas bagi perempuan. Kemampuan menata diri secara mandiri tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam membangun kemandirian ekonomi kreatif perempuan Hindu menuju ketahanan keluarga yang harmonis dan sejahtera.
Penguatan nilai-nilai spiritual dalam pembinaan ini disampaikan secara komprehensif oleh Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Gunungkidul, Rahayu Fitriyani, melalui pemaparan materi bertajuk 'Wanita sebagai Garda Terdepan dalam Hindu'. Dalam penjelasannya, ia menguraikan bahwa ajaran suci Weda menempatkan kaum perempuan pada posisi yang sangat mulia dan terhormat, yakni sebagai gharani (ratu rumah tangga) sekaligus pratistha yang bermakna fondasi utama dalam keluarga.
"Perempuan memegang peranan sentral dalam menjaga kelangsungan tradisi, mendidik generasi penerus, serta menanamkan nilai susila dan sradha di ruang keluarga. Ketangguhan perempuan Hindu akan menentukan kokohnya kehidupan umat. Oleh karena itu, disiplin dalam menjalankan tradisi, termasuk menjaga kerapian busana adat, merupakan bagian dari penguatan spiritualitas," urai Rahayu Fitriyani.
Memasuki sesi utama, suasana pelatihan yang dipandu oleh narasumber ahli, Wirasmi, berlangsung dengan penuh kehangatan dan keakraban. Para peserta diajarkan berbagai teknik penataan rambut, mulai dari struktur sanggul tradisional yang sarat nilai filosofis hingga model sanggul modern yang lebih praktis untuk menunjang aktivitas keagamaan sehari-hari maupun persembahyangan di Pura. Dengan pendampingan yang intensif, setiap peserta diberikan kesempatan luas untuk mempraktikkan teknik bersanggul secara mandiri.
Melalui agenda pembinaan dan pelatihan bersanggul ini, WHDI Kabupaten Gunungkidul bersama Penyuluh Agama Hindu tidak hanya berhasil menguatkan kapasitas anggotanya dalam melestarikan warisan budaya leluhur, melainkan juga mempererat tali persaudaraan serta meneguhkan komitmen kolektif perempuan Hindu sebagai garda terdepan dalam menjaga, mengawal, dan mengamalkan nilai-nilai dharma.