Pesisir Barat, Lampung (Bimas Hindu) Tradisi melantunkan sloka atau Nyruti di Pesantian Sri Dharma, Adat Pasar Minggu, Kecamatan Ngambur, tidak hanya menjadi ruang pelestarian tradisi keagamaan. Kegiatan ini juga diarahkan untuk membangun kebiasaan membaca, memahami, dan mengamalkan ajaran kitab suci mulai dari lingkungan keluarga.
Pesan tersebut mengemuka dalam pembinaan rutin Penyuluh Agama Hindu KUA Kecamatan Ngambur, Aris Biantoro, kepada kelompok binaan WHDI Adat Pasar Minggu di Wantilan Pura Puseh Adat Pasar Minggu, Selasa (1/9/2026). Sekitar 28 peserta mengikuti kegiatan yang diawali dengan pelantunan sloka, kemudian dilanjutkan pembahasan makna dan nilai ajaran yang terkandung di dalamnya.
Menurut Aris, Nyruti tidak semestinya berhenti pada kemampuan melafalkan sloka. Hal yang lebih penting adalah bagaimana ajaran yang dibaca dapat dipahami dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Pembinaan ini bukan hanya tentang membaca kitab suci, tetapi bagaimana kita memahami makna ajaran yang dibaca, kemudian menjadikannya sebagai pedoman dalam bersikap, bertutur kata, dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Aris.
Penguatan pemahaman tersebut kemudian diarahkan hingga ke lingkungan keluarga. Aris menilai orang tua, khususnya ibu, memiliki posisi penting sebagai pendidik pertama dalam menanamkan nilai agama dan disiplin spiritual kepada anak.
“Pendidikan pertama dan utama dimulai dari keluarga. Keteladanan orang tua dalam membaca dan mempelajari kitab suci akan menjadi contoh bagi anak. Karena itu, budaya membaca dan mempelajari kitab suci perlu dibangun mulai dari lingkungan keluarga,” jelas Aris.
Dalam pembinaan, peserta juga dikenalkan pada sejumlah sumber sastra Hindu, di antaranya Visnu Purana dan Reg Weda I.164.39, yang digunakan untuk memperkuat pemahaman mengenai pentingnya mempelajari, membaca, mendengarkan, dan mengajarkan ajaran suci.
Ketua Pesantian Sri Dharma Adat Pasar Minggu, Putu Peni, mengatakan Nyruti membantu anggota pesantian tidak hanya menghafalkan sloka, tetapi juga memahami relevansinya dalam kehidupan keluarga.
“Kegiatan Nyruti sangat bermanfaat bagi kami. Apa yang kami lantunkan bukan hanya sekadar hafalan, tetapi dapat menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan, mendidik anak, dan melaksanakan ajaran agama dalam keluarga,” ungkap Putu Peni.
Nyruti bersama Pesantian Sri Dharma rutin dilaksanakan setiap Purnama setelah persembahyangan bersama. Pada Purnama 27 Agustus 2026, kegiatan ditunda karena bertepatan dengan Piodalan Pura Puseh Adat Pasar Minggu dan kemudian dilaksanakan kembali pada 1 September 2026.
Melalui pembinaan tersebut, tradisi pesantian dipertahankan bukan sekadar sebagai warisan budaya keagamaan, tetapi juga sebagai media literasi kitab suci dan penguatan pendidikan agama berbasis keluarga, agar nilai-nilai Dharma tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.