Bangli (Bimas Hindu) — Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bangli melalui tim Penyuluh Agama Hindu terus memperkuat layanan bimbingan dan penyuluhan keagamaan yang inklusif di masyarakat. Kali ini, pembinaan difokuskan pada kelompok rehabilitan psikososial di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Manah Shanti Mahottama, Bangli, pada Kamis (30/7/2026).
Langkah ini merupakan wujud nyata kehadiran pemerintah dalam mendukung proses pemulihan pasien melalui pendekatan spiritual dan keagamaan.
Kegiatan bimbingan dipandu langsung oleh Penyuluh Agama Hindu Kemenag Bangli yang terdiri dari I Wayan Sudarma, I Komang Widiana, dan Ni Wayan Wiraswastini. Sebanyak 13 orang rehabilitan tampak mengikuti seluruh rangkaian pembinaan dengan tertib, antusias, dan penuh konsentrasi.
Rangkaian pembinaan diawali dengan praktik keagamaan meliputi Nitya Karma Puja Tri Sandhya, Bhadrika Pranayama, Jigjig Show, serta Kultivasi AUM. Berbagai metode ini diterapkan secara khusus sebagai terapi spiritual untuk meningkatkan ketenangan batin, melatih konsentrasi, serta memberikan penguatan jiwa bagi para rehabilitan selama menjalani masa perawatan.
Setelah sesi praktik, para rehabilitan diajak berdiskusi interaktif dengan mengangkat tema Sarwanam, yakni ajaran tentang pentingnya mendengarkan hal-hal yang baik sebagai fondasi dalam membentuk pola pikir dan perilaku yang positif. Materi ini menekankan bahwa keberhasilan proses rehabilitasi tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi juga oleh keterbukaan hati untuk menerima arahan dari tenaga medis.
Penyuluh Agama Hindu Kemenag Bangli, I Wayan Sudarma, menjelaskan bahwa pembinaan spiritual adalah komponen krusial dalam mendukung penyembuhan yang komprehensif.
"Pembinaan keagamaan diharapkan mampu memperkuat mental dan spiritual rehabilitan sehingga mereka memiliki motivasi yang tinggi untuk terus menjalani proses pemulihan. Kepatuhan terhadap arahan tenaga medis, yang didukung dengan penguatan nilai-nilai Dharma, menjadi bekal penting untuk mencegah kekambuhan dan membangun kualitas hidup yang lebih baik ke depannya," jelas I Wayan Sudarma.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa berdasarkan evaluasi dan pengalaman pendampingan, kasus kekambuhan sering kali terjadi saat pasien kembali ke lingkungan keluarga akibat kurangnya kepatuhan terhadap anjuran medis. Oleh karena itu, penyuluhan keagamaan ini didesain sedemikian rupa untuk menumbuhkan kesadaran diri, kedisiplinan, dan tanggung jawab moral bagi para pasien.
Rangkaian kegiatan ini ditutup dengan suasana yang damai dan penuh semangat. Melalui program pembinaan yang berkesinambungan, Kemenag Kabupaten Bangli menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan layanan bimbingan keagamaan yang humanis, inklusif, dan berdampak nyata dalam mendukung peningkatan kualitas kehidupan spiritual seluruh lapisan masyarakat.
Kontributor: I Made Sudiana