Prafi (Bimas Hindu) — Jemari halus almarhumah Ni Made Putri yang semasa hidupnya tekun merangkai janur, menyusun banten, dan merawat kesucian ritual Hindu di pelosok Papua Barat kini telah beristirahat. Penghormatan mendalam mengalir dari puluhan umat dan tokoh agama saat mengiringi prosesi Pitra Yadnya (kremasi) sosok serati banten tersebut di Wasegi Indah, Distrik Prafi, Kabupaten Manokwari, pada Rabu (23/9/2026).
Almarhumah yang merupakan istri dari Jro Mangku Dalem Ped (Jero Mangku Wayan Catra) dikenal sebagai salah satu tiang penyangga keberlanjutan tradisi Hindu Nusantara di daerah kepulauan dan perbatasan. Pengabdian tulusnya dalam menyiapkan sarana upakara menjadi inspirasi nyata bagaimana ajaran keagamaan dan kearifan lokal dirawat dengan konsisten di wilayah afirmasi.
Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kanwil Kemenag Papua Barat, I Gusti Ketut Suardana, yang hadir memimpin Pitra Puja dan mengoordinasikan jalannya upacara menegaskan bahwa peran serati banten di kawasan 3T memiliki nilai strategis yang sangat tinggi bagi pembinaan karakter umat.
"Sosok serati banten adalah penjaga nyawa dari kearifan lokal Hindu Nusantara. Pengabdian almarhumah di tanah perantauan Papua Barat memberi teladan nyata bahwa kelestarian tradisi dan kesucian ritual dapat terus hidup melalui ketulusan dan kerja keras di tingkat akar rumput," papar Suardana di hadapan para pemuka agama.
Kehadiran jajaran Kemenag di tengah suasana duka tersebut sekaligus memberikan kepastian teknis agar prosesi kremasi dapat berjalan selaras dengan agenda Piodalan di Pura Tirtha Giri Bhuana yang jatuh pada hari yang sama. Melalui musyawarah dan kedewasaan beragama, kedua agenda sakral tersebut berhasil diselaraskan tanpa mengabaikan tata cara adat maupun kenyamanan ibadah umat.
"Kita tidak dapat mengatur kehendak Tuhan, tetapi kita bisa menata waktu dan kewajiban manusia dengan tertib. Piodalan di pura tetap berjalan sesuai waktunya, dan prosesi Pitra Yadnya kita selaraskan melalui semangat menyama braya. Yang terpenting, semuanya dilaksanakan secara tulus dan penuh rasa hormat," jelas Suardana.
Apresiasi atas pengabdian tokoh lokal serta harmonisasi ritual di daerah pelosok ini menjadi wujud nyata pilar Asta Protas Kementerian Agama dalam merawat kearifan lokal dan tradisi Hindu Nusantara. Langkah ini sekaligus mendukung Asta Cita Presiden dalam memperkuat pembangunan karakter, moderasi, serta persatuan sosial di seluruh pelosok Tanah Air.
Kontributor: Ni Komang Astiti Santhi Devi