Dobrak Keterbatasan Akses Umat Disabilitas, Kemenag Gianyar Hadirkan Pendidikan Agama Inklusif Lewat Metode MEDIASI

Penyuluhan MEDIASI (Game, Melodi, Edukasi) yang digulirkan Kantor Kemenag Kabupaten Gianyar untuk mendobrak sekat keterbatasan akses pendidikan agama bagi warga berkebutuhan khusus di Desa Siangan

Gianyar (Bimas Hindu) — Senyum merona dan gelak tawa mewarnai suasana Aula Yayasan Bhakti Senang Hati saat puluhan warga penyandang disabilitas antusias mengikuti permainan interaktif serta lantunan lagu-lagu bernuansa spiritual. Keceriaan tersebut menjadi penanda hadirnya metode inovatif Penyuluhan MEDIASI (Game, Melodi, Edukasi) yang digulirkan Kantor Kemenag Kabupaten Gianyar untuk mendobrak sekat keterbatasan akses pendidikan agama bagi warga berkebutuhan khusus di Desa Siangan, Gianyar, pada Selasa (22/9/2026).

Program bertema "Satu Hati, Satu Cinta, Satu Keluarga" yang bertepatan dengan Peringatan Hari Jadi Yayasan Bhakti Senang Hati ke-21 ini dirancang khusus untuk menjangkau kelompok rentan yang selama ini belum tersentuh pembelajaran agama secara formal. Melalui perpaduan alunan melodi dan permainan edukatif, materi nilai-nilai cinta kasih serta keharmonisan keluarga disampaikan secara sederhana dan mudah diserap oleh para peserta.

Dampak nyata dari pendekatan inklusif ini dirasakan langsung oleh salah satu peserta, Ida Bagus Nyoman Sancahya. Ia mengaku bersyukur karena akhirnya mendapatkan ruang belajar agama yang ramah dan memahami kebutuhan fisik maupun psikologis warga difabel.

"Kami sangat berterima kasih kepada Kemenag Gianyar. Kami yang sebelumnya tidak mendapatkan pembelajaran Agama Hindu, sekarang dapat menerimanya dengan sangat baik. Penyampaiannya sangat menarik karena menggunakan pendekatan nyanyian dan permainan," ungkap Sancahya usai mengikuti sesi penyuluhan.

Kasi Urusan Agama Hindu Kemenag Gianyar, Ida Bagus Rai Supada, memaparkan bahwa pengembangan metode MEDIASI merupakan komitmen instansi dalam merealisasikan pilar Asta Protas Kementerian Agama terkait pelayanan keagamaan yang inklusif, berdampak, dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.

"Penyuluhan keagamaan tidak boleh hanya berputar di ruang perkotaan atau mimbar-mimbar formal. Kami mendatangi langsung komunitas disabilitas untuk memastikan hak-hak spiritual mereka terpenuhi. Melalui pendekatan psikologis yang menyenangkan, nilai-nilai Dharma dapat tertanam dengan kuat," tegas Rai Supada.

Langkah responsif Kemenag Gianyar ini selaras dengan agenda Asta Cita Presiden dalam memperkuat perlindungan sosial, menegakkan kesetaraan hak, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia inklusif di seluruh pelosok Tanah Air. Sinergi berkesinambungan ini memastikan kehadiran negara benar-benar dirasakan manfaatnya sebagai pengayom seluruh umat beragama.

 

Kontributor: Ni Ketut Santiani, S.Ag.


Berita Daerah LAINNYA