Mataram (Bimas Hindu) — SMAN 1 Mataram (Smansa Mataram) kembali menyelenggarakan kegiatan pembinaan mental dan spiritual tahunan melalui program Pasraman Kilat. Kegiatan yang diinisiasi oleh Unit Kerohanian Hindu OSIS Smansa ini diikuti secara antusias oleh sekitar 70 peserta didik baru kelas X pada, Jumat (21/08/2026).
Menariknya, pelaksanaan kegiatan keagamaan tahun ini dirancang agar selaras dengan semangat penguatan ekoteologi atau program Green Dharma yang tengah digencarkan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu. Sebagai bentuk aksi nyata kepedulian terhadap alam, seluruh peserta dan panitia bersepakat untuk menekan produksi sampah kemasan dengan mewajibkan penggunaan botol minum pribadi atau tumbler selama kegiatan berlangsung.
Pembina Unit Kerohanian Hindu OSIS sekaligus Guru Pendidikan Agama Hindu SMAN 1 Mataram, Ni Komang Purni Marsini, M.Pd.H., menjelaskan bahwa inisiatif ekologis tersebut bertujuan untuk mengajak peserta didik memberikan dampak positif secara langsung bagi lingkungan.
"Kami mengedukasi peserta didik agar selaras dengan tema besar kami, yaitu Smansa Berdampak. Langkah kecil yang dapat kami lakukan saat ini adalah menjaga agar produksi sampah plastik berkurang di lingkungan sekitar kita. Selain berdampak pada lingkungan, pada akhir kegiatan nanti kami juga ingin memberikan dampak sosial bagi masyarakat sekitar melalui pembagian bingkisan kepada warga yang membutuhkan," terang Purni Marsini.
Upaya pembentukan karakter peserta didik dalam Pasraman Kilat ini turut diperkuat oleh materi kerohanian yang disampaikan oleh Sekretaris Umum Kelompok Kerja Penyuluh Agama Hindu Indonesia (Pokjaluh AHI), I Made Sri Wirdiata. Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak generasi muda Hindu untuk terus mengupayakan diri bertumbuh menjadi pribadi yang mantap dan berperilaku mulia.
Ia mengingatkan bahwa membentuk kepribadian yang luhur tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan harus melalui pembiasaan hal-hal positif secara konsisten. Para peserta didik diarahkan untuk berani mengintrospeksi kebiasaan-kebiasaan buruk di dalam diri secara jujur, serta menekan dominasi Sad Ripu atau enam musuh utama dalam diri manusia agar tidak mengendalikan tindakan sehari-hari.
Lebih lanjut, generasi Z yang sejak dini telah familier dengan penggunaan gawai didorong untuk memanfaatkan kemajuan teknologi secara bijak. Mereka dinilai memiliki peluang besar untuk memproduksi konten-konten edukasi guna mengasah bakat sekaligus menyebarkan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan kepada khalayak luas.
"Lingkungan yang lestari adalah fondasi masa depan kalian. Jika lingkungan rusak, maka masa depan juga akan suram. Tindakan menekan penggunaan sampah plastik seperti dalam kegiatan ini merupakan langkah sederhana namun berdampak nyata bagi alam, sehingga hal baik ini harus dipertahankan dan terus ditingkatkan," pungkas Wirdiata memotivasi para peserta.
Kontributor: Wirdiata