LUMAJANG, (BIMAS HINDU) – Penyuluh Agama Hindu se-Indonesia menggelar gerakan penanaman pohon serentak Taru Raksaning Bhuwana (Pohon Pelindung Bumi) yang dipusatkan di Pura Mandhara Giri Semeru Agung, Lumajang Jawa Timur, Kamis (18/7/2024).
Acara tersebut dihadiri dan dibuka langsung oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu (Dirjen Bimas Hindu) Prof. I Nengah Duija yang mewakili Menteri Agama (Menag) RI Yaqut Cholil Qoumas. Turut hadir pula Koordinator Staf Khusus Presiden AAGN Ari Dwipayana, Pj. Gubernur Jatim dan para Penyuluh Agama Hindu se-Indonesia.
Mewakili Menag Yaqut, Dirjen Bimas Hindu mengajak umat untuk senantiasa menjaga dan melestarikan alam agar bisa meningkatkan kualitas kehidupan sebagai manusia yang peduli alam dan sosial.
“Mari kita bersama-sama menjaga dan melestarikan alam sebagai wujud rasa syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, kita tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga meningkatkan kualitas kehidupan kita sebagai manusia yang utuh dan seimbang, serta mampu menumbuhkan kepedulian terhadap kesejahteraan alam dan sosial,” kata Prof. I Nengah Duija di Jawa Timur, Kamis (18/7/2024).
Dalam gerakan yang dilakukan oleh Penyuluh Agama Hindu se-Indonesia ini juga diselenggarakan upacara Karya Tawur Agung Labuh Gentuh, Panca Wali Krama, lan Pangusaban. Yang merupakan rangkaian upacara keagamaan yang sangat sakral dan memiliki makna yang mendalam bagi umat Hindu.
“Upacara ini bukan hanya sebagai bentuk persembahan kepada Sang Hyang Widhi Wasa, tetapi juga sebagai wujud syukur, penyucian diri, dan harmonisasi dengan alam semesta. Melalui upacara ini, kita berharap agar keseimbangan alam tetap terjaga, dan kita semua diberikan kedamaian, kesejahteraan, serta perlindungan.
Dia menyebut bahwa manusia memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keseimbangan alam. Dalam ajaran Hindu, hal ini dirumuskan melalui berbagai Tattwa Hindu yang terkandung dalam ajaran Sad Kertih yang ditulis dalam Lontar Purana Bali oleh para orang-orang suci Hindu di Bali.
“Sad Kertih terdiri dari 6 upaya utama yang mencerminkan komitmen kita dalam melestarikan alam dan memelihara kesucian manusia di antaranya Atma Kertih, Samudra Kertih, Wana Kertih, Danu Kertih, Jagat Kertih dan Jana Kertih,” katanya.
Ia merinci, Atma Kertih yaitu upaya menyucikan Sang Hyang Atma dari belenggu Tri Guna melalui berbagai upacara sebagai pengingat melalui ritual-ritual untuk menjaga kesucian jiwa dan lingkungan sekitar, Samudra Kertih yaitu upaya melestarikan samudra sebagai sumber kehidupan melalui ritual-ritual yang mengingatkan untuk menjaga kebersihan laut dan mencegah perusakan ekosistem laut.
Kemudian Wana Kertih yaitu pelestarian hutan sebagai paru-paru dunia dan sumber kehidupan, dengan mendirikan Pura di kawasan hutan dan melaksanakan upacara-upacara di sana, Danu Kertih yaitu menjaga kelestarian sumber-sumber air tawar seperti mata air dan danau melalui ritual sakral untuk mengingatkan akan pentingnya air sebagai sumber kehidupan, Jagat Kertih yaitu membangun keharmonisan hubungan sosial yang dinamis dan produktif berdasarkan nilai-nilai kebenaran dan pengabdian dalam masyarakat, dan terakhir Jana Kertih yaitu mewujudkan manusia yang berkualitas secara individu dengan mengintegrasikan kesucian rohani, kelestarian alam, dan keharmonisan sosial.
“Dengan melaksanakan ajaran Sad Kertih, kita berharap dapat menciptakan lingkungan yang seimbang dan harmonis antara manusia dan alam. Melalui pemujaan kepada Tuhan di Sad Kahyangan, kita memperkuat komitmen dan konsistensi dalam mewujudkan nilai-nilai Sad Kertih dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Lebih lanjut Dirjen Bimas Hindu mengapresiasi seluruh pihak yang telah bekerja keras dalam mempersiapkan dan melaksanakan Karya Tawur Agung Labuh Gentuh, Panca Wali Krama, lan Pangusaban ini. “Peran serta masyarakat, tokoh agama, dan seluruh umat Hindu sangat penting dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai spiritual dan budaya yang telah diwariskan oleh leluhur kita. Semangat gotong-royong dan kebersamaan yang tercermin dalam upacara ini merupakan cerminan dari kekayaan budaya bangsa yang patut kita lestarikan dan banggakan,” katanya.
Namun demikian, agar upacara besar ini memiliki nilai praktis maka perlu diciptakan langkah nyata dalam kehidupan, yakni dengan menjaga konsepsi luan-teben di mana luan/ gunung/hulu harus terus dipertahankan bahkan perlu menanam pohon-pohon/ tumbuh-tumbuhan agar bagian hulu khususnya di Semeru Agung ini tetap menjadi penyejuk bagian teben atau hilir, sehingga pelaksanaan upacara agama dalam dimensi spiritual seimbang dengan dimensi sosial, budaya dan perilaku sehari-hari dan ikut menjaga keseimbangan ekosistem semesta ini.
“Saya juga berharap agar Karya Tawur Agung Labuh Gentuh, Panca Wali Krama, lan Pangusaban ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat tali persaudaraan dan kerukunan antarumat beragama di Indonesia. Kita semua adalah bagian dari bangsa yang besar dan beragam, dan kerukunan serta toleransi antarumat beragama adalah kunci utama dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” pungkasnya.