Klungkung (Bimas Hindu) Istilah klesa mungkin belum akrab bagi sebagian umat Hindu. Padahal, mengenali klesa dalam diri menjadi bagian penting dalam upaya menata pikiran, mengendalikan perilaku, dan membangun kehidupan yang lebih baik.
Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Klungkung kepada warga binaan beragama Hindu di Rutan Kelas IIB Klungkung melalui Dharma Wacana, Rabu (12/8/2026). Bertepatan dengan Hari Suci Tilem Karo, kegiatan pembinaan keagamaan tersebut mengajak warga binaan untuk menepi sejenak dari rutinitas dan melakukan refleksi terhadap diri sendiri.
Mengangkat tema “Mengenali Klesa dalam Diri dan Mengendalikannya melalui Panca Yama dan Nyama Brata,” kegiatan ini tidak sekadar memberikan pemahaman keagamaan, tetapi juga mengajak warga binaan menyadari bahwa perubahan diri dapat dimulai dari kemampuan mengenali hal-hal yang menjadi penghalang dalam diri.
Penyuluh Agama Hindu Kemenag Klungkung, Kadek Ita Yuliani, menjelaskan bahwa klesa dapat dipahami sebagai berbagai sifat, pikiran, maupun kecenderungan yang dapat menjadi penghalang seseorang dalam mencapai ketenangan batin dan kehidupan yang lebih baik.
“Kami mengajak warga binaan untuk memahami bahwa setiap manusia memiliki berbagai bentuk klesa, yaitu hal-hal yang dapat menjadi penghalang dalam mencapai ketenangan pikiran dan kehidupan yang lebih baik. Dengan mengenali klesa dalam diri, seseorang diharapkan mampu melakukan introspeksi serta berupaya mengendalikan pikiran, perkataan, dan perbuatannya,” ujar Ita.
Pemahaman mengenai klesa menjadi penting karena proses memperbaiki diri tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar. Kesadaran untuk mengenali kelemahan diri dan kemauan untuk memperbaikinya merupakan langkah awal menuju kehidupan yang lebih baik.
Dalam penyampaian materi, warga binaan juga diajak memahami bahwa pengendalian diri dapat dilakukan melalui penerapan Panca Yama Brata dan Panca Nyama Brata. Kedua ajaran tersebut menjadi pedoman dalam membentuk karakter, menjaga hubungan harmonis dengan sesama, sekaligus membangun kedisiplinan dan pengendalian diri secara internal.
Penyuluh Agama Hindu Kemenag Klungkung, Sang Ayu Putu Surahayuni, menegaskan bahwa kedua ajaran tersebut dapat menjadi pegangan dalam proses pembentukan karakter dan peningkatan kualitas kehidupan spiritual.
“Kedua ajaran tersebut dapat menjadi pedoman dalam membentuk karakter yang lebih baik dan meningkatkan kualitas kehidupan spiritual,” sambung Surahayuni.
Momentum Tilem Karo pun dimaknai sebagai waktu yang tepat untuk melakukan introspeksi, mengevaluasi perjalanan hidup, dan memperkuat tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak hanya menjadi pegangan selama warga binaan menjalani masa pembinaan, tetapi juga menjadi bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
Pembinaan ini sekaligus menjadi wujud sinergi Kementerian Agama Kabupaten Klungkung dan Rutan Kelas IIB Klungkung dalam menghadirkan pembinaan keagamaan yang berkelanjutan bagi warga binaan. Melalui pendekatan spiritual, pembinaan tidak hanya menyentuh aspek keagamaan, tetapi juga diarahkan pada pembentukan karakter dan penguatan mental.
Upaya tersebut sejalan dengan Asta Protas Kementerian Agama RI, khususnya Layanan Keagamaan Berdampak, melalui pembinaan dan pendampingan spiritual yang menjangkau berbagai lapisan masyarakat, termasuk warga binaan pemasyarakatan. Pembinaan tersebut diharapkan turut membentuk pribadi yang lebih berkarakter, harmonis, dan berakhlak mulia.
Kontributor : Wisnawa