Belajar Menghormati dari Empat Guru Kehidupan, KARMA Tanamkan Nilai Catur Guru di SD Negeri 1 Kutampi

Penyuluh Agama Hindu Kemenag Klungkung Ni Made Okta Rapinanti memberikan pembinaan Catur Guru kepada siswa SD Negeri 1 Kutampi melalui kegiatan KARMA, Kamis (13/8/2026).

Klungkung (Bimas Hindu) Menghormati orang tua, menghargai guru, menaati aturan, serta meningkatkan bakti kepada Tuhan merupakan nilai karakter yang perlu dikenalkan sejak usia dini. Melalui pembinaan keagamaan yang dekat dengan dunia anak, Kementerian Agama Kabupaten Klungkung terus mendorong agar nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan KARMA (Kampanye Agama Ramah Masyarakat) di SD Negeri 1 Kutampi, Kamis (13/8/2026). Dalam kegiatan tersebut, Penyuluh Agama Hindu Kemenag Klungkung, Ni Made Okta Rapinanti, mengajak para siswa mengenal Catur Guru sebagai salah satu ajaran Hindu yang menjadi landasan dalam membangun sikap hormat, bakti, disiplin, dan tanggung jawab.

Di hadapan para siswa, Okta menjelaskan bahwa Catur Guru mengajarkan empat sosok yang memiliki peran penting dalam kehidupan dan patut dihormati.

“Catur Guru mengajak siswa mengenal empat sosok yang patut dihormati, yaitu Guru Swadhyaya atau Tuhan Yang Maha Esa, Guru Rupaka atau orang tua, Guru Pengajian atau guru, dan Guru Wisesa atau pemerintah. Melalui materi ini, siswa diajak menumbuhkan sikap hormat, bakti, disiplin, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Okta.

Pembelajaran berlangsung dalam suasana hangat dan interaktif. Para siswa tidak hanya menyimak materi, tetapi juga aktif menjawab pertanyaan serta menceritakan pengalaman mereka dalam menghormati orang tua dan guru di lingkungan keluarga maupun sekolah.

Pendekatan sederhana dan penggunaan contoh yang dekat dengan kehidupan anak membuat materi Catur Guru lebih mudah dipahami. Nilai keagamaan pun disampaikan bukan sekadar sebagai konsep, melainkan sebagai pedoman yang dapat diwujudkan melalui perilaku sehari-hari.

Menurut Okta, pemahaman tentang Catur Guru penting untuk membangun kesadaran anak bahwa proses tumbuh dan berkembang tidak terlepas dari peran berbagai pihak, mulai dari Tuhan, keluarga, guru, hingga pemerintah.

“Melalui kegiatan ini, diharapkan nilai-nilai Catur Guru tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tumbuh generasi yang santun, berkarakter, beragama, dan mampu hidup harmonis di tengah masyarakat,” sambung Okta.

Kegiatan KARMA di SD Negeri 1 Kutampi sekaligus memperlihatkan pentingnya sinergi antara pembinaan keagamaan dan dunia pendidikan dalam membangun karakter generasi muda. Pendidikan tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan etika, spiritualitas, tanggung jawab, dan kemampuan hidup harmonis di tengah masyarakat.

Pembinaan tersebut sejalan dengan Asta Protas Kementerian Agama RI, khususnya prioritas Mewujudkan Pendidikan Unggul, Ramah, dan Terintegrasi serta Layanan Keagamaan Berdampak. Melalui KARMA, nilai-nilai keagamaan dihadirkan dengan pendekatan yang ramah dan edukatif agar lebih dekat dengan kebutuhan serta pengalaman generasi muda.

Kontributor : Wisnawa


Berita Daerah LAINNYA