Sleman (Bimas Hindu) Senja di kawasan Candi Ratu Boko, Sleman, Yogyakarta, menjadi momentum spiritual bagi jajaran Bimas Hindu dan Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Hindu DIY. Melalui Dharma Yatra pada Rabu (12/8/2026), peserta tidak hanya melaksanakan persembahyangan, tetapi juga diajak membangun kesadaran untuk menghormati sekaligus merawat warisan leluhur Nusantara.
Persembahyangan dipuput oleh Jro Mangku Widiantoro dan diikuti jajaran Bimas Hindu serta Pokjaluh Hindu DIY. Suasana senja yang hening di kawasan situs bersejarah tersebut menghadirkan ruang refleksi tentang keterhubungan antara kehidupan spiritual, sejarah, budaya, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Pembimas Hindu DIY, Didik Widya Putra, mengajak umat Hindu memiliki cara pandang yang lebih luas terhadap keberadaan candi dan berbagai situs peninggalan leluhur. Menurutnya, candi tidak semestinya hanya dipandang sebagai bangunan bersejarah, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menghidupkan kesadaran spiritual.
“Mari kita jadikan candi sebagai tempat suci, kita hormati dan jaga kelestariannya sebagai peninggalan leluhur. Jangan hanya melihat candi sebagai bangunan sejarah, tetapi juga sebagai ruang untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, melakukan persembahyangan, serta menumbuhkan kesadaran spiritual,” ungkap Didik.
Didik menekankan, kehadiran umat Hindu di kawasan candi untuk melaksanakan persembahyangan perlu disertai dengan sikap bertanggung jawab terhadap lingkungan dan situs yang dikunjungi. Ketertiban, kebersihan, kesakralan, serta kelestarian kawasan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan kegiatan keagamaan.
“Candi bukan sekadar batu yang tersusun menjadi bangunan sejarah. Di dalamnya ada jejak peradaban, nilai spiritual, dan pesan leluhur yang harus kita hormati. Mari datang, sembahyang, menjaga kesucian, sekaligus merawat kelestariannya. Dengan begitu, Dharma tidak hanya kita ucapkan, tetapi kita wujudkan melalui kepedulian terhadap warisan leluhur dan lingkungan,” tambah Didik.
Dharma Yatra di Ratu Boko sekaligus menjadi pengingat bahwa penghormatan terhadap warisan leluhur dapat menjadi bagian dari pengamalan Dharma. Persembahyangan tidak berhenti pada ritual, tetapi dapat diterjemahkan melalui kepedulian terhadap ruang suci, lingkungan, dan peninggalan budaya.
Melalui cara pandang tersebut, situs warisan leluhur tidak hanya ditempatkan sebagai monumen masa lalu. Keberadaannya dapat terus dihidupkan sebagai ruang pembelajaran spiritual dan sumber inspirasi bagi generasi masa kini maupun generasi mendatang. Dengan menghormati sejarah, menjaga alam, dan merawat kesucian, nilai-nilai Dharma diwujudkan dalam tindakan nyata.
Kontributor : Heni Purwanti