Bangun Pemahaman Tatwa yang Mendalam, Penyuluh Agama Hindu Jelaskan Esensi Persembahyangan di Pura

Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Lampung Tengah turun langsung menyapa umat melalui kegiatan pembinaan keagamaan kepada kelompok binaan Pesantian Bandar Jaya Timur

LAMPUNG TENGAH (BIMAS HINDU) – Kehadiran Brahman sejatinya melingkupi seluruh penjuru alam semesta, menyatu dalam setiap jengkal ruang dan waktu. Namun, di tengah hiruk-pikuk kehidupan duniawi, umat manusia senantiasa membutuhkan sebuah medium dan ruang suci untuk memusatkan pikiran, menyelaraskan getaran spiritual, dan menemukan kedamaian batin sejati. Berangkat dari kesadaran filosofis inilah, Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Lampung Tengah turun langsung menyapa umat melalui kegiatan pembinaan keagamaan kepada kelompok binaan Pesantian Bandar Jaya Timur pada Rabu (22/07/2026).

Kegiatan pembinaan rohani yang berlangsung khusyuk dan hangat di kediaman salah satu umat Hindu di wilayah Bandar Jaya Timur ini mendapat sambutan antusias dari para peserta. Bertindak sebagai narasumber utama, Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Lampung Tengah, I Ketut Ginada, S.Pd., S.H., menyampaikan materi pencerahan yang bertajuk “Tuhan Ada di Mana-Mana, Mengapa Umat Hindu Tetap Diwajibkan Sembahyang ke Pura?”.

Dalam pencerahannya, I Ketut Ginada memaparkan bahwa ajaran Hindu meyakini Tuhan bersifat Wyapi Wyapaka, yakni hadir di mana-mana dan memenuhi seluruh jagat raya. Esensi ini memberikan pemahaman dasar bahwa umat Hindu dapat berdoa dan mengingat Tuhan kapan pun dan di mana pun mereka berada. Meski demikian, ia menegaskan bahwa keberadaan pura tetap memiliki fungsi yang sangat fundamental bagi ketahanan rohani umat.

"Memang benar Ida Sang Hyang Widhi Wasa itu tak terbatas dan hadir di setiap molekul alam semesta. Namun, pikiran kita sebagai manusia acap kali terombang-ambing oleh arus kesibukan duniawi. Pura atau tempat ibadah itu sejatinya ibarat antena suci atau menara pemancar yang membantu kita memfokuskan frekuensi pikiran agar lebih jernih. Dengan melangkah ke kawasan yang telah disucikan tersebut, kita diajak menundukkan ego duniawi sehingga lebih mudah terhubung dengan Beliau, sekaligus merekatkan ikatan persaudaraan antarsesama umat dalam satu semangat kebersamaan," papar I Ketut Ginada memberikan penegasan yang sarat akan makna spiritual.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pura adalah kawasan sakral yang telah melalui serangkaian prosesi penyucian keagamaan, sehingga menjadi pusat penyerahan diri. Memasuki area pura berarti mengajak umat untuk membangun hubungan vertikal yang khusyuk dengan Sang Pencipta, dan secara bersamaan memelihara hubungan horizontal melalui pelestarian tradisi dan kepedulian sosial.

Kegiatan yang dikemas dalam bentuk diskusi dua arah ini turut dihadiri oleh Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Lampung Tengah selaku narasumber, tokoh umat setempat, serta seluruh anggota yang tergabung dalam kelompok binaan Pesantian Bandar Jaya Timur. Para peserta tampak sangat interaktif, secara bergantian menyampaikan pertanyaan serta membagikan pengalaman nyata mereka mengenai praktik pelaksanaan ajaran agama dalam dinamika keseharian.

Melalui pendekatan pembinaan yang dialogis dan berkesinambungan ini, umat diajak memahami bahwa bersembahyang di pura bukanlah pertanda pembatasan wujud Tuhan, melainkan sarana krusial untuk mendidik disiplin rohani dan mempertebal Śraddhā serta Bhakti. Dengan pencerahan ini, diharapkan umat Hindu tidak sekadar menjalankan ibadah sebagai rutinitas warisan tradisi, melainkan melaksanakannya atas dasar kesadaran tatwa yang utuh demi menjaga keharmonisan tatanan kehidupan bermasyarakat.


Berita Daerah LAINNYA