Banyak yang Belum Tahu, Leluhur Bali Ternyata Sudah Wariskan "Kurikulum" Modern Ini Lewat Galungan!

Penyuluh Agama Hindu Kemenag Klungkung, Dewa Ayu Antari (kiri) melalui siaran Mimbar Agama Hindu di Radio Srinadi memberikan pencerahan "Belajar Manajemen Melalui Rangkaian Hari Suci Galungan"

Klungkung (Bimas Hindu) – Hari itu (15/06/2026), jarum jam menunjukkan pukul 17.00 WITA. Saat matahari mulai condong ke barat dan umat Hindu di berbagai pelosok daerah mulai melepas penat setelah seharian beraktivitas, sebuah siaran edukatif yang menyejukkan hadir menemani ruang istirahat mereka. Melalui siaran Mimbar Agama Hindu di Radio Srinadi yang mengudara setiap sore hingga pukul 18.00 WITA, Penyuluh Agama Hindu Kemenag Klungkung, Dewa Ayu Antari, hadir menyapa umat dengan penuh kehangatan. 

Istimewanya, gelombang radio ini tidak hanya bergema di Klungkung saja, tetapi juga menembus ruang-ruang santai keluarga di Bangli, Karangasem, hingga Gianyar. Lewat momen rehat sore yang rileks ini, Penyuluh Kemenag Klungkung sukses meluaskan jangkauan edukasinya hingga ke lintas wilayah binaan Kantor Kementerian Agama di Provinsi Bali. Tema yang diangkat pun sangat lekat dengan keseharian, yaitu "Belajar Manajemen Melalui Rangkaian Hari Suci Galungan". Melalui frekuensi ini, Dewa Ayu Antari mengajak pendengar melihat rentetan Galungan-Kuningan bukan hanya sebagai ritual, tetapi sebagai 'kurikulum' manajemen dari leluhur. 

Sambil menikmati teh hangat di sore hari, pendengar diajak membedah bagaimana para leluhur Bali sesungguhnya telah menyusun tahapan manajemen waktu yang luar biasa. "Kalau kita amati, leluhur sudah menyusun manajemen waktu yang rapi. Dimulai dari Tumpek Uduh, Sugihan Jawa, Sugihan Bali untuk bersih lahir-batin, lalu Penampahan untuk persiapan, puncaknya Galungan sebagai kemenangan dharma, kemudian Umanis Galungan sebagai moment mempererat hubungan," papar Dewa Ayu Antari. Melalui tahapan tersebut, puncak Galungan dimaknai sebagai kemenangan dharma melawan adharma, yakni keberhasilan mengendalikan diri agar tidak larut dalam hal-hal material sekaligus terus mengasah nilai-nilai spiritual. 

Lebih lanjut, ia juga mengingatkan umat mengenai esensi utama dari perayaan ini agar tidak terjebak pada gengsi materi. "Manajemen Galungan bukan tentang siapa yang memiliki banten paling banyak, melainkan bagaimana umat dapat menjalankan hari suci dengan khidmat, sehat, dan bahagia," tegas Dewa Ayu Antari. 

Pemanfaatan slot waktu santai sore yang menjangkau area luas ini menjadi strategi cerdas Kemenag Klungkung dalam mengimplementasikan Asta Protas Kemenag. Pembelajaran yang diangkat dari tradisi keagamaan ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan Pendidikan Unggul, Ramah, dan Terintegrasi. Dengan menghadirkan Layanan Keagamaan Berdampak di jam istirahat, pesan suci ini tidak hanya memperkuat pemahaman ajaran agama, tetapi juga memberikan bekal nyata untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari umat se-Bali Timur.


Berita Daerah LAINNYA