Denpasar (BIMAS HINDU) – Memuliakan Tuhan tidak selalu harus dilakukan di dalam bangunan suci. Bagi jajaran Bidang Urusan Agama Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, tindakan nyata merawat alam adalah salah satu bentuk ibadah yang paling konkret. Pada Kamis (02/07/2026), seluruh pegawai bahu-membahu melakukan aksi bersih lingkungan dan penataan tanaman di area kantor, sebuah langkah yang dimaknai lebih dalam sebagai implementasi ajaran Ekoteologi.
Dalam perspektif Ekoteologi Hindu, alam semesta adalah perwujudan fisik dari kesucian Tuhan. Aksi ini merupakan cerminan dari konsep Tri Hita Karana, khususnya hubungan harmonis antara manusia dengan lingkungannya (Pawongan dengan Palemahan). Dengan menata halaman kantor, para aparatur tidak sekadar membersihkan debu, tetapi sedang menyucikan ruang kerja agar selaras dengan ritme alam yang asri dan hijau.
Kepala Bidang Urusan Agama Hindu Kanwil Kemenag Provinsi Bali, I Wayan Diadnyana, menegaskan bahwa kesadaran ekologis adalah fondasi moral bagi setiap pelayan publik. Baginya, seorang aparatur yang mencintai alam akan memiliki kepekaan yang sama dalam melayani sesama manusia.
"Kegiatan ini adalah wujud nyata dari penghayatan nilai-nilai ekoteologi. Menjaga kebersihan lingkungan bukan sekadar tugas administratif, melainkan tanggung jawab moral kita untuk merawat keharmonisan alam. Lingkungan yang hijau dan tertata adalah manifestasi dari batin yang damai, yang pada akhirnya akan terpancar dalam pelayanan yang tulus dan optimal kepada masyarakat."
Lebih dari sekadar menciptakan kantor yang estetis, aksi ini menjadi bentuk teladan bagi masyarakat luas. Di tengah tantangan krisis lingkungan, Kementerian Agama ingin menegaskan bahwa nilai-nilai agama harus hadir sebagai solusi, bukan sekadar teori. Ketika para pelayan publik secara sadar menjaga kelestarian bumi, mereka sedang menjalankan ajaran Dharma untuk menjaga keberlangsungan kehidupan bagi semua makhluk.
Melalui program yang terintegrasi ini, Bidang Urusan Agama Hindu Kanwil Kemenag Provinsi Bali ingin membangun budaya kerja yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian administratif, tetapi juga memiliki kedekatan batin dengan alam. Lingkungan kantor yang asri diharapkan mampu menjadi ruang meditatif yang memberikan kenyamanan bagi masyarakat yang datang, sehingga layanan yang diberikan menjadi lebih bermakna dan menyentuh sisi kemanusiaan.