Bersyukur Tanpa Berhenti Berusaha, Penyuluh Klungkung Angkat Pesan Karma Yoga

Penyuluh Agama Hindu Kemenag Klungkung Ni Made Okta Rapinanti menyampaikan Dharma Wacana tentang bersyukur dalam perspektif Hindu pada Persembahyangan Bersama Rahina Tilem di Pura Mandara Giri Kemenag Klungkung, Rabu (12/8/2026).

Klungkung (Bimas Hindu) Bersyukur dalam perspektif Hindu bukan berarti berhenti berusaha atau pasrah menerima keadaan. Rasa syukur justru menjadi kesadaran untuk menghargai setiap anugerah sekaligus menjalankan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.

Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Klungkung, Ni Made Okta Rapinanti, dalam Dharma Wacana bertema “Bersyukur dalam Perspektif Hindu” pada Persembahyangan Bersama Rahina Tilem di Pura Mandara Giri Kemenag Klungkung, Rabu (12/8/2026).

Okta menjelaskan, bersyukur merupakan bagian dari implementasi sradha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Syukur tidak hanya diwujudkan melalui doa dan persembahyangan, tetapi juga melalui cara seseorang menjalani kehidupan serta memanfaatkan setiap anugerah yang diterima.

“Dalam perspektif Hindu, bersyukur bukan hanya mengucapkan ‘terima kasih’ kepada Tuhan, tetapi menyadari, menerima, dan menghargai segala anugerah yang telah diberikan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, kemudian menggunakannya dengan sebaik-baiknya,” papar Okta.

Menurut Okta, setiap hal yang dimiliki merupakan anugerah yang patut dihargai. Namun, anugerah tersebut juga mengandung tanggung jawab untuk dimanfaatkan secara bijaksana, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

Bersyukur Bukan Berarti Berhenti Mengejar Cita-Cita

Okta menegaskan, rasa syukur tidak seharusnya dimaknai sebagai sikap pasrah atau alasan untuk berhenti mengejar cita-cita. Seseorang tetap dapat memiliki keinginan untuk menjadi lebih baik, selama keinginan tersebut tidak membuatnya lupa menghargai apa yang telah dimiliki.

“Kita boleh ingin lebih sukses, lebih kaya, lebih pintar, dan lebih baik. Tetapi jangan sampai keinginan tersebut membuat kita lupa menghargai apa yang sudah dimiliki,” sambung Okta.

Dalam Dharma Wacana tersebut, Okta kemudian mengaitkan makna syukur dengan ajaran Karma Yoga, yakni pentingnya melaksanakan kewajiban dengan tulus tanpa terlalu terikat pada hasil.

Pesan tersebut selaras dengan Bhagavad Gita III.19 yang menekankan pentingnya menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan penuh kesungguhan sebagai bentuk pengabdian.

Melalui perspektif tersebut, bersyukur dan berusaha bukanlah dua sikap yang bertentangan. Rasa syukur menjadi landasan untuk menghargai apa yang telah diterima, sementara usaha menjadi bentuk tanggung jawab dalam mengembangkan anugerah tersebut.

Syukur dalam Kehidupan Sehari-hari

Okta juga mengajak umat menerapkan rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui hubungan dengan Tuhan, keluarga, sesama manusia, maupun lingkungan. Nilai tersebut sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana yang menekankan keharmonisan hubungan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui Parahyangan, sesama manusia melalui Pawongan, dan alam lingkungan melalui Palemahan.

Umat juga diingatkan agar tidak menjadikan kehidupan sebagai ajang perlombaan dengan terus membandingkan diri dengan orang lain. Setiap orang memiliki perjalanan, karma, dan waktunya masing-masing.

Melalui Dharma Wacana tersebut, umat diharapkan memahami bahwa rasa syukur dapat berjalan beriringan dengan semangat untuk terus bertumbuh. Bersyukur bukan berarti berhenti berusaha, melainkan menerima setiap anugerah dengan penuh kesadaran, kemudian mengembangkannya melalui tindakan yang baik dan bertanggung jawab.

“Hidup tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan, tetapi selalu memberikan kesempatan untuk belajar,” tutup Okta.

Kegiatan ini sejalan dengan Asta Protas Kementerian Agama RI yang digagas Menteri Agama RI Nasaruddin Umar, khususnya Layanan Keagamaan Berdampak melalui penguatan pembinaan keagamaan yang membumi dan relevan dengan kehidupan masyarakat. Nilai syukur, kepedulian, dan keharmonisan juga selaras dengan semangat Kerukunan dan Cinta Kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.

Kontributor : Ni Made Ari Rismaya Dewi


Berita Daerah LAINNYA