Yogyakarta (Bimas Hindu) - Sebanyak 80 umat Hindu yang tergabung dalam rombongan Tirta Yatra Suka Duka Kabupaten Jembrana, Bali, melaksanakan persembahyangan di dua tempat suci di Daerah Istimewa Yogyakarta, yakni Candi Prambanan dan Pura Vaikuntha Vyomantara, Jumat (3/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari perjalanan spiritual sekaligus mempererat ikatan persaudaraan umat Hindu lintas daerah.
Rombongan yang dipimpin I Ketut Sulandra disambut oleh Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Daerah Istimewa Yogyakarta, Didik Widya Putra, bersama Jro Gede Purwanto. Prosesi persembahyangan di Candi Prambanan dipuput oleh Jro Mangku Sukardi dan Jro Mangku Sumarno dengan suasana penuh khidmat.
Dalam sambutannya, Didik Widya Putra menegaskan bahwa Candi Prambanan memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar peninggalan sejarah. Menurutnya, kawasan tersebut merupakan simbol kejayaan peradaban Hindu di Nusantara yang menyimpan nilai-nilai spiritual, budaya, dan sejarah yang harus terus dijaga oleh generasi penerus.
"Candi Prambanan bukan hanya warisan budaya dunia, tetapi juga simbol kejayaan peradaban Hindu di Nusantara. Tempat suci ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai Dharma telah mengakar kuat dalam perjalanan bangsa dan harus terus kita lestarikan sebagai sumber inspirasi bagi generasi muda," ujar Didik.
Usai melaksanakan persembahyangan di Candi Prambanan, rombongan melanjutkan Tirta Yatra menuju Pura Vaikuntha Vyomantara. Kedatangan peserta diterima oleh pengempon pura, Jro Mangku Werda Negara, yang sekaligus memimpin jalannya persembahyangan.
Pada kesempatan tersebut, Didik menyampaikan Dharma Wacana yang menitikberatkan pada pentingnya pembinaan generasi muda Hindu di tengah perkembangan zaman. Ia menilai pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Dharma harus berjalan beriringan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan agar mampu melahirkan generasi yang tangguh.
"Membangun generasi muda Hindu bukan sekadar menyiapkan penerus organisasi atau lembaga keagamaan, tetapi menyiapkan pemimpin masa depan yang memiliki karakter, integritas, dan semangat pengabdian. Nilai-nilai Dharma harus ditanamkan sejak dini agar mereka mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri," katanya.
Didik juga membagikan pengalamannya sejak usia muda aktif menjalankan ngayah di berbagai pura. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi fondasi dalam menumbuhkan sradha dan bhakti, sekaligus membentuk karakter pengabdian yang terus dipegang hingga kini dalam menjalankan tugas melayani umat.
Ia menambahkan bahwa keluarga, lingkungan, dan keterlibatan aktif dalam kegiatan keagamaan merupakan tiga pilar utama dalam membangun karakter generasi Hindu yang berakhlak mulia, berintegritas, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.
Rangkaian Tirta Yatra ini tidak hanya menjadi sarana memperdalam kehidupan spiritual, tetapi juga memperkuat hubungan antarumat Hindu dari berbagai daerah. Pertemuan tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman, memperkokoh semangat kebersamaan, serta meneguhkan komitmen untuk terus menjaga warisan nilai-nilai Dharma sebagai fondasi membangun generasi Hindu yang berkualitas dan berdaya saing.