Barito Timur (Bimas Hindu) — Dalam upaya mengakselerasi program prioritas Green Dharma (Ekoteologi) sekaligus memperkuat pilar Rumah Bimbingan Keluarga Sukinah (RBKS), Bimas Hindu Barito Timur menggelar bimbingan calon pengantin (catin) Hindu Kaharingan yang dirangkaikan dengan aksi penanaman pohon di Balai Basarah Desa Gandrung, Paku, Barito Timur, Kamis (1/10/2026).
Kegiatan pembekalan pranikah ini mengintegrasikan pemahaman hakikat perkawinan (Grahasta Asrama) dengan kewajiban moral pelestarian alam melalui penanaman bibit Pohon Sawang dan Pohon Kelapa oleh pasangan calon pengantin.
Aksi penanaman pohon ini dijadikan sebagai syarat simbolis dan komitmen nyata keberlanjutan lingkungan bagi pasangan muda sebelum memasuki kehidupan berumah tangga.
Tim Bimas Hindu Barito Timur, Sapdianto, menjelaskan bahwa filosofi rumah tangga sejalan dengan pertumbuhan sebuah pohon. Akar yang merancap dalam menggambarkan landasan Dharma, sedangkan batang dan buah yang lebat mencerminkan kebermanfaatan keluarga bagi masyarakat dan alam semesta.
“Hari ini kita tidak hanya membekali calon pengantin dengan teori kehidupan rumah tangga, melainkan mengajak mereka melakukan aksi nyata menanam kehidupan. Pohon Sawang dan Kelapa yang ditanam menjadi wujud komitmen Ekoteologi, bahwa membina rumah tangga dan merawat alam adalah satu kesatuan tanggung jawab spiritual yang tak terpisahkan,” ujar Sapdianto.
Sapdianto menambahkan, penerapan nilai Ekoteologi melatih pasangan muda untuk melihat hubungan manusia dengan alam sebagai bagian dari ajaran keagamaan. Menjaga dan melestarikan lingkungan merupakan bentuk nyata rasa syukur serta bakti kepada Tuhan.
Sekretaris Majelis Kelompok Agama Hindu Kaharingan Desa Gandrung, Lenti Ratnasari, menyambut positif terobosan bimbingan pranikah berbasis lingkungan ini. Menurutnya, aksi penanaman pohon memberikan nilai tambah yang sangat edukatif bagi generasi muda Dayak Kaharingan.
“Kami sangat mengapresiasi inovasi penanaman pohon dalam bimbingan calon pengantin ini. Selain membekali kesiapan mental dan spiritual calon pengantin, kegiatan ini menanamkan kesadaran pentingnya menjaga kelestarian alam desa secara berkelanjutan,” ungkap Lenti Ratnasari.
Melalui pengintegrasian aksi Ekoteologi dalam setiap program bimbingan perkawinan di daerah, Ditjen Bimas Hindu berkomitmen untuk terus mencetak Keluarga Sukinah yang tidak hanya harmonis secara internal, tetapi juga aktif menjadi pelopor pelestarian lingkungan di Nusantara.
Kontributor: Sapdianto, S.Sos.AH