Klaten (Bimas Hindu) — Guna memperkuat literasi dan merawat harmoni bangsa, Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah menghadiri sekaligus memberikan atensi khusus dalam kegiatan bedah buku bertajuk "Jejak Kerukunan dan Toleransi di Klaten pada Masa Mataram Kuna Abad VIII–X".
Buku yang sarat akan kajian sejarah ini merupakan karya Ir. I Gusti Gde Hendrata Wisnu, MMR., salah seorang tokoh yang juga anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Klaten. Kegiatan bedah buku ini diselenggarakan di Pendopo Kabupaten Klaten pada Rabu (5/8/2026).
Kegiatan yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten Klaten ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Klaten yang hadir mewakili Bupati. Acara ini turut dihadiri oleh jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), pengurus FKUB se-Solo Raya, tokoh agama, akademisi, serta berbagai unsur masyarakat lintas iman.
Forum kajian ilmiah ini menghadirkan tiga narasumber pakar, yakni Prof. Dr. Timbul Haryono, M.Sc., Dr. Daud Aris Tanudirjo, M.A., dan Dr. Ir. Cornellius Ronowijoyo, Ph.D. Ketiganya secara komprehensif mengulas berbagai aspek sejarah, temuan arkeologi, dan akar nilai-nilai kerukunan yang telah berkembang pesat di Klaten sejak masa Kerajaan Mataram Kuna.
Dalam sesi tanggapan, Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah menyampaikan apresiasi tingginya atas inisiasi dan terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, bedah buku ini adalah langkah strategis untuk menanamkan nilai-nilai kerukunan kepada masyarakat, khususnya bagi generasi muda penerus bangsa.
"Kegiatan ini sangat baik dan patut didukung penuh. Generasi muda perlu memahami secara literatur bahwa nilai-nilai kerukunan dan toleransi telah tumbuh serta berkembang sejak masa lampau di Nusantara. Sejarah memberikan pelajaran berharga bahwa kehidupan masyarakat yang harmonis adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan peradaban bangsa kita," ujarnya.
Lebih lanjut, Pembimas Hindu secara khusus menekankan urgensi pelurusan pemahaman sejarah berdasarkan kajian ilmiah yang valid. Masyarakat, menurutnya, harus diajak untuk mulai bisa membedakan antara cerita rakyat (legenda) dengan fakta sejarah yang didasarkan pada temuan penelitian.
"Pemahaman sejarah perlu terus diluruskan. Misalnya, mengenai Candi Prambanan yang selama ini sering dipahami masyarakat awam melalui legenda Bandung Bondowoso. Dalam perspektif sejarah dan kajian ilmiah, Candi Prambanan merupakan mahakarya agung para leluhur yang dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuna ketika diperintah oleh Rakai Pikatan. Oleh karena itu, literasi sejarah berbasis penelitian perlu terus diperkuat agar generasi muda memperoleh pemahaman yang utuh dan akurat," jelasnya menegaskan.
Melalui diskursus dalam bedah buku ini, diharapkan semakin tumbuh kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya menjaga kerukunan antarumat beragama. Sekaligus, meningkatkan kebanggaan serta apresiasi terhadap warisan sejarah sebagai fondasi kuat untuk merajut persatuan dan identitas luhur bangsa.
Kontributor: Edi Sutrisno