Lampung Tengah (Bimas Hindu) – Tirtayatra tidak selalu harus dilakukan ke pura-pura besar yang berada di luar daerah. Mengunjungi dan bersembahyang di pura-pura yang berada di lingkungan sekitar juga memiliki nilai spiritual yang sama sebagai wujud peningkatan śraddhā dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Pesan inilah yang disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Lampung Tengah saat mendampingi kegiatan apa yang disebut sebagai Tirtayatra Lokal yang diselenggarakan oleh Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Bedeng 10 Trimurjo, Selasa (7/7/2026). Kegiatan yang diikuti sekitar 70 peserta tersebut menjadi contoh nyata bahwa perjalanan suci dapat dimulai dari pura-pura yang ada di daerah sendiri.
Dalam kegiatan tersebut, peserta melaksanakan persembahyangan bersama di Pura Ulun Danu Tirta Gangga di SB 13 Kecamatan Seputih Banyak, Pura Peluang (Pura Mobil) di Kampung Rama Nirwana, serta Pura Jagat Karana di Kampung Rama Dewa, Kecamatan Seputih Raman. Selain menjadi sarana beribadah, kunjungan ini juga memperkenalkan kembali keberadaan pura-pura lokal sebagai pusat pembinaan umat Hindu di Lampung Tengah.
Ketua Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Agama Hindu Kabupaten Lampung Tengah, I Ketut Ginada, S.Pd, mengatakan bahwa pendampingan penyuluh bertujuan memperkuat pemahaman umat mengenai makna tirtayatra yang sesungguhnya.
"Tirtayatra bukan sekadar perjalanan menuju tempat suci yang jauh. Esensinya adalah mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui persembahyangan dengan hati yang tulus. Pura-pura yang ada di sekitar kita pun memiliki kesucian yang sama dan patut dimuliakan. Dengan mengunjungi pura-pura lokal, kita tidak hanya meningkatkan spiritualitas, tetapi juga ikut menjaga eksistensi serta menghidupkan tempat-tempat suci di daerah sendiri," ujarnya.
Ginada juga mengapresiasi inisiatif WHDI Bedeng 10 yang memilih melaksanakan tirtayatra di wilayah Lampung Tengah. Menurutnya, langkah tersebut merupakan bentuk nyata penguatan umat dari akar rumput sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap pura-pura yang menjadi pusat kehidupan keagamaan masyarakat Hindu setempat.
Sepanjang kegiatan, peserta mengikuti persembahyangan dengan penuh khusyuk, disertai semangat kebersamaan dan gotong royong yang mencerminkan nilai-nilai Dharma. Suasana tersebut menunjukkan bahwa makna tirtayatra tidak ditentukan oleh jauhnya perjalanan, melainkan oleh ketulusan hati dalam berbhakti dan membangun kebersamaan sesama umat.
Melalui kegiatan ini, Penyuluh Agama Hindu berharap semakin banyak umat yang menyadari bahwa tirtayatra dapat dilakukan di pura-pura sekitar tempat tinggal. Selain lebih mudah dijangkau, kegiatan ini juga menjadi upaya melestarikan keberadaan pura lokal sebagai pusat ibadah, pembinaan, pendidikan keagamaan, dan penguatan kehidupan spiritual umat Hindu di daerah.