Karangasem (Bimas Hindu) Keharmonisan keluarga tidak selalu berarti kehidupan tanpa persoalan. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap anggota keluarga mampu menghadapi perbedaan dan menyelesaikan persoalan dengan pikiran, perkataan, dan tindakan yang baik.
Pesan tersebut menjadi salah satu pokok pembinaan Agama Hindu yang disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karangasem bersama Penata Layanan Operasional (PLO) Kecamatan Selat di Banjar Dinas Wates Kaja, Desa Duda Timur, Rabu (12/8/2026).
Mengangkat tema “Mewujudkan Kerukunan dan Harmonisasi dalam Keluarga”, kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat pemahaman umat mengenai pentingnya membangun keluarga yang rukun, harmonis, dan berketahanan dengan berlandaskan nilai-nilai agama Hindu.
Dalam pembinaan, umat diajak memahami bahwa keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam pembentukan karakter serta kepribadian. Karena itu, kualitas hubungan antaranggota keluarga perlu dibangun melalui sikap saling menghormati, komunikasi yang baik, tanggung jawab, serta penerapan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu landasan yang ditekankan adalah Tri Kaya Parisudha, yakni berpikir yang baik (manacika), berkata yang baik (wacika), dan berbuat yang baik (kayika). Ketiga nilai tersebut dinilai relevan untuk membangun pola komunikasi yang sehat di dalam keluarga.
Penyuluh Agama Hindu, Mira Puspita, mengatakan keharmonisan keluarga justru diuji ketika menghadapi persoalan.
“Keluarga yang harmonis tidak berarti tanpa masalah, tetapi bagaimana setiap anggota keluarga mampu menghadapi masalah dengan pikiran yang baik, perkataan yang santun, dan tindakan yang bijaksana. Tri Kaya Parisudha dapat menjadi pedoman agar komunikasi dalam keluarga tetap terjaga dan setiap persoalan dapat diselesaikan dengan kasih sayang,” ujar Puspita.
Menurut Mira, penerapan nilai agama dalam keluarga tidak cukup hanya dipahami, tetapi perlu dibiasakan melalui perilaku sehari-hari. Saling menghormati, mau mendengarkan, dan menyelesaikan perbedaan melalui musyawarah menjadi bagian penting dalam menciptakan suasana rumah yang nyaman bagi seluruh anggota keluarga.
“Ketika keluarga mampu saling menghormati, mau mendengarkan, dan membiasakan menyelesaikan perbedaan dengan musyawarah, maka suasana rumah akan menjadi tempat yang nyaman untuk bertumbuh bersama,” tambah Puspita.
Pembinaan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pemahaman keagamaan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga. Dengan menjadikan Tri Kaya Parisudha sebagai pedoman dalam berpikir, berbicara, dan bertindak, umat diharapkan mampu membangun relasi keluarga yang lebih sehat sekaligus menghindari pertengkaran dan memperkuat sikap saling menghargai.
Bagi umat Hindu, upaya menjaga kerukunan dan keharmonisan keluarga juga menjadi bagian dari pengamalan Sraddha dan Bhakti. Keluarga yang mampu membangun komunikasi, kasih sayang, dan penghormatan diharapkan menjadi fondasi bagi terciptanya kehidupan masyarakat yang damai, rukun, dan sejahtera.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat komitmen Kemenag Karangasem dalam menghadirkan pelayanan dan pembinaan keagamaan yang menjawab kebutuhan umat. Melalui sinergi Penyuluh Agama Hindu dan PLO di tingkat kecamatan, nilai-nilai Dharma diharapkan semakin nyata diterapkan, mulai dari lingkungan keluarga hingga kehidupan bermasyarakat.
Kontributor : Finxi