Pentingnya Menjaga Substansi Agama di Tengah Dinamika Budaya Nusantara

Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si., memberikan kuliah umum di hadapan puluhan mahasiswa dan dosen Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Lampung pada Kamis (02/04/2026)

LAMPUNG (Bimas Hindu) – Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si., memberikan kuliah umum di hadapan puluhan mahasiswa dan dosen Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Lampung pada Kamis (02/04/2026). Bertempat di Auditorium Dharmawangsa, Prof. Duija memaparkan materi mendalam bertajuk "Aktualisasi Budaya Hindu Nusantara untuk Mewujudkan Generasi yang Berkualitas".
Dalam acara yang dipandu oleh moderator Dr. Wayan Sukarlinawati tersebut, Prof. Duija menekankan bahwa kekuatan Hindu di Indonesia terletak pada keberagaman tradisinya yang mampu menyerap identitas lokal tanpa kehilangan esensi spiritualnya. Ia mengingatkan bahwa Hindu Nusantara bukanlah satu standar yang kaku, melainkan harmoni dari berbagai ekspresi budaya, mulai dari Hindu Jawa, Bali, hingga tradisi di Lampung.
"Agama itu punya standar etik dan punya standar substansi. Standar substansinya itu adalah Panca Sradha. Apapun yang kita baca dari kitab, alur pemikirannya tentang tradisi Nusantara sebelum Islam itu hampir semuanya sama," ujar Prof. Duija dalam orasinya.
Beliau juga membedah sejarah literasi Hindu, menjelaskan bahwa banyak pakem normatif yang dipraktikkan di Bali saat ini sebenarnya berakar pada tradisi tulis Jawa abad ke-9 hingga ke-14. Namun, Prof. Duija memberikan catatan kritis mengenai fenomena di mana tradisi terkadang lebih ditonjolkan dibandingkan substansi agamanya.
Ia mencontohkan bagaimana tradisi Ogoh-ogoh yang baru populer sekitar tahun 1979 kini seolah menjadi syarat mutlak dalam perayaan Nyepi, padahal substansi Nyepi terletak pada pengendalian diri.
"Tradisi itu adalah kebiasaan yang dilakukan secara berpihak minimal dalam tiga generasi, maka dia menjadi tradisi. Yang kita khawatirkan adalah jangan sampai tradisi ini menggeser pelaksanaan substansi agamanya. Nyepinya sederhana, tapi Ogoh-ogohnya luar biasa," tegasnya.
Lebih lanjut, Prof. Duija menyoroti tantangan rasionalitas dan teknologi dalam beragama. Menurutnya, perkembangan budaya dan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa dibendung, seperti penggunaan ponsel untuk memantau ritual atau wacana efisiensi dalam upacara. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa agama tidak boleh hanya ditarik ke wilayah rasionalitas semata karena dasarnya adalah keyakinan (wahyu).
Kuliah umum ini ditutup dengan sebuah refleksi mendalam tentang keterbatasan ilmu pengetahuan manusia. Prof. Duija mengisahkan analogi seorang ilmuwan yang menyadari bahwa segala kecanggihan teknologi tidak mampu mengembalikan nyawa, di mana pada titik itulah keyakinan kepada Tuhan menjadi mutlak.
Melalui kuliah umum ini, diharapkan generasi muda Hindu di Lampung mampu menjadi pribadi yang berkualitas dengan cerdas memilah antara dinamika budaya yang adaptif dan substansi ajaran agama yang tetap harus dijaga kemurniannya.


Berita Pusat LAINNYA