Jakarta (BIMAS HINDU) — Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama menggelar Rapat Koordinasi Implementasi Materi Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) berbasis enam agama, Selasa (28/04/2026), di Ruang Sidang Ditjen Bimas Hindu. Kegiatan ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan lintas kementerian dan lintas agama untuk memperkuat peran keluarga, khususnya figur ayah, dalam pembentukan karakter generasi bangsa.
Rapat ini dihadiri oleh Dirjen Bimas Hindu Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si., Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Kemendukbangga/BKKBN Nopian Andusti, S.E., M.T., serta perwakilan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama yang diwakili oleh Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Dr. H. Arsad Hidayat, M.A. Hadir pula para direktur urusan agama dari berbagai agama, perwakilan BKKBN, serta tim penyusun materi GATI berbasis agama.
Dalam arahannya, Dirjen Bimas Hindu menyoroti secara mendalam makna peran ayah dalam perspektif ajaran Hindu. Beliau menjelaskan bahwa dalam budaya dan tradisi Hindu, ayah bukan sekadar sosok kepala keluarga, melainkan figur yang sangat dihormati dan dimuliakan, bahkan dipandang sebagai representasi nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan keluarga.
Prof. I Nengah Duija mengisahkan bahwa dalam tradisi Bali, seorang anak tidak diperkenankan menyebut nama ayah secara langsung. Hal ini bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk penghormatan tinggi kepada sosok ayah yang dipandang sebagai perwujudan tanggung jawab dan otoritas moral dalam keluarga.
“Dalam pemahaman kami, ayah itu bukan hanya orang tua secara biologis, tetapi juga simbol nilai, simbol keteladanan. Bahkan dalam konsep Hindu, ayah dan ibu disebut sebagai ‘guru rupaka’, yaitu guru yang memberikan kita bentuk, kehidupan, dan identitas,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Prof. I Nengah Duija menjelaskan bahwa dalam ajaran Hindu dikenal empat jenis guru, yaitu guru rupaka (orang tua), guru pengajian (pendidik), guru wisesa (pemerintah), dan guru swadyaya (Tuhan Yang Maha Esa). Dalam konteks ini, posisi orang tua terutama ayah menjadi sangat penting karena merupakan fondasi awal dalam pembentukan karakter anak.
Dirjen Bimas Hindu juga menyinggung fenomena sosial yang terjadi saat ini, di mana peran ayah dalam keluarga mulai mengalami pergeseran. Kesibukan kerja, tuntutan profesional, serta perubahan gaya hidup modern membuat banyak ayah tidak lagi memiliki cukup waktu untuk terlibat secara aktif dalam kehidupan anak.
“Kita tidak bisa memungkiri bahwa jarak dan kesibukan menjadi tantangan. Tapi setidaknya kita bisa tetap terhubung. Hal sederhana seperti memastikan anak sudah makan atau sudah di rumah melalui komunikasi rutin, itu juga bagian dari kehadiran seorang ayah,” jelasnya.
Dirjen Bimas Hindu juga mengaitkan pentingnya peran ayah dengan konsep keseimbangan dalam kehidupan, termasuk dalam menjaga keberlanjutan generasi. Ia menyebut bahwa dalam pandangan Hindu, kehadiran anak sebagai penerus sangat penting, dan peran ayah menjadi kunci dalam memastikan nilai-nilai kehidupan dapat diwariskan dengan baik.
Selain itu, beliau menegaskan bahwa agama harus mampu menjawab tantangan zaman, tidak hanya berbicara pada aspek ritual, tetapi juga menyentuh dimensi kemanusiaan dan kesejahteraan. Dalam konteks ini, Kementerian Agama telah mendorong penguatan nilai melalui program seperti kurikulum cinta dan ekoteologi.
“Kita ingin agama hadir lebih luas, menyentuh kehidupan nyata. Bicara tentang cinta kepada Tuhan, sesama manusia, lingkungan, dan tanah air. Ini semua berkaitan erat dengan bagaimana kita membangun keluarga yang kuat,” ujarnya.
Prof. I Nengah Duija berharap materi GATI berbasis enam agama ini dapat menjadi panduan yang inklusif dan relevan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Menurutnya, nilai-nilai tentang pentingnya peran ayah sejatinya ada di semua ajaran agama, sehingga tinggal bagaimana dikemas dan disampaikan secara tepat kepada masyarakat.
Sementara itu, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Kemendukbangga/BKKBN Nopian Andusti, S.E., M.T., menegaskan bahwa Gerakan Ayah Teladan Indonesia merupakan langkah strategis untuk menjawab tantangan menurunnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. Beliau menekankan bahwa kehadiran ayah tidak hanya penting secara ekonomi, tetapi juga secara emosional dan psikologis.
Rapat koordinasi ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara pemerintah dan tokoh agama dalam menyampaikan pesan-pesan pembangunan keluarga kepada masyarakat secara lebih luas dan efektif.
Melalui kolaborasi ini, diharapkan gerakan ayah teladan dapat menjadi budaya baru di tengah masyarakat, di mana ayah hadir secara utuh dalam kehidupan anak, sehingga mampu melahirkan generasi yang berkarakter, tangguh, dan berdaya saing.