SINGARAJA (Bimas Hindu) – Isu hangat mengenai rencana evaluasi dan potensi penutupan program studi (prodi) yang dianggap tidak relevan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi dan Saintek (Kemendikti-Saintek) menjadi alarm keras bagi institusi pendidikan keagamaan. Merespons hal tersebut, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu (Ditjen Bimas Hindu) Kementerian Agama RI bergerak cepat dengan menghadiri Rapat Koordinasi Pembentukan Konsorsium Pendidikan Agama Hindu yang diinisiasi oleh IAHN Mpu Kuturan Singaraja pada Senin, 4 Mei 2026.
Pertemuan yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom ini menjadi momentum krusial untuk menentukan arah masa depan pendidikan tinggi Hindu di Indonesia agar tetap kompetitif di tengah dinamika industri global.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu, Prof. Dr. Drs. I Nengah Duija, M.Si., dalam arahannya memberikan penekanan tajam terhadap relevansi lulusan perguruan tinggi Hindu. Prof. Duija menegaskan bahwa narasi revitalisasi yang digaungkan pemerintah pusat harus dijawab dengan langkah konkret, bukan sekadar administratif.
"Tentu ini tidak boleh terjadi lagi terkait dengan merespon arahan dari Kementerian Pendidikan Tinggi dan Saintek tentang relevansi pendidikan tinggi terhadap dunia industri," ujar Prof. Duija.
Ia menjelaskan bahwa rilis terbaru dari kementerian terkait evaluasi prodi harus dimaknai sebagai kewajiban untuk merombak total kurikulum yang ada. "Kita tidak bisa lagi mengandalkan kurikulum yang kita kelola sekarang. Harus ada redefinisi tentang Pendidikan Agama Hindu. Jadi redefinisi itu ini sudah kita diskusikan pada awal kita di pasca UHN," tambahnya.
Inti dari strategi baru ini adalah Redefinisi Pendidikan Agama Hindu. Prof. Duija menyoroti bahwa pendidikan Hindu tidak boleh hanya menjadi "tempelan" materi agama pada ilmu umum, melainkan harus memiliki dasar epistemologi yang kuat dan mandiri.
Beberapa poin transformasi yang akan dijalankan melalui Konsorsium adalah:
- Kurikulum Berbasis Industri: Menyiapkan lulusan yang tidak hanya terpaku menjadi guru, tetapi juga mampu mengisi ruang-ruang profesional di industri sosial, budaya, dan kreatif.
- Integrasi Teknologi & AI: Merespons tantangan zaman di mana pembelajaran sudah beralih ke papan digital dan penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam metode pengajaran.
- Lulusan yang Fleksibel: Menanamkan mindset kepada mahasiswa bahwa mereka memiliki kompetensi untuk bekerja di berbagai sektor jika peluang menjadi guru terbatas.
Senada dengan Dirjen, Rektor IAHN Mpu Kuturan Singaraja, Prof. Dr. I Gede Suwindia, S.Ag., M.A., menyatakan bahwa inisiasi pembentukan konsorsium ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi akademik Hindu di tingkat nasional. Menurutnya, kolaborasi antar lembaga adalah kunci agar program studi keagamaan tidak terisolasi dari perkembangan zaman.
"Pembentukan konsorsium ini adalah upaya kami menjawab kebutuhan integrasi dan pengembangan pendidikan secara berkelanjutan. Kita ingin memastikan bahwa sinergi antar Perguruan Tinggi Keagamaan Hindu (PTKH) mampu melahirkan standar mutu akademik yang tinggi serta kurikulum yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan industri," ungkap Prof. Suwindia.
Prof. Suwindia juga menekankan bahwa IAHN Mpu Kuturan berkomitmen penuh untuk menjadi motor penggerak transformasi ini. "Inovasi tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Melalui konsorsium, kita berbagi sumber daya, kepakaran, dan pengalaman terbaik agar lulusan kita memiliki daya saing yang kuat dan prodi-prodi kita tetap relevan dengan standar nasional," tegasnya.
Ketua Panitia Pembentukan Konsorsium, I Putu Agus Jaya Negara, menambahkan bahwa melalui wadah ini, para dosen diharapkan terlibat aktif mengaktifkan kembali pengetahuan, metode, dan isu strategis. Hal ini penting agar pengajaran teologi dan pendidikan agama memiliki core (inti) standar yang jelas, sehingga tidak hanya berdasarkan pengalaman empiris masing-masing dosen.