PROBOLINGGO, (BIMAS HINDU) - Upacara Pawedalan Pura Luhur Poten Bromo dan Yadnya Kasada tahun 2024 berlangsung dengan sakral nan megah.
Upacara yang berlangsung 21-22 Juni 2024 itu dihadiri secara langsung oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu (Dirjen Bimas Hindu) Prof. I Nengah Duija dan Direktur Pendidikan Hindu Trimo. Acara sakral ini juga dihadiri oleh umat Hindu dari berbagai daerah yang berkumpul di kawasan Gunung Bromo untuk memanjatkan doa dan memohon berkah.
Dirjen Bimas Hindu I Nengah Duija dalam sambutannya menuturkan bahwa keistimewaan tradisi Kasada yang sesuai dengan teks Tantu Pagelaran, sebuah naskah kuno yang menggambarkan mitologi Tengger tentang Joko Seger dan Roro Anteng serta peran Dewa Brahma. Selain itu, ritual Kasada tidak hanya memiliki makna spiritual tetapi juga ekologis.
"Ritual ini mampu menyejukkan amarah Dewa Brahma dan membawa kesejahteraan bagi umat Hindu di Tengger. Selain itu, penting untuk selalu menjaga tradisi ini sebagai jalan untuk kesejahteraan bersama," tuturnya.
"Ritual Kasada tidak hanya memiliki makna spiritual tetapi juga ekologis. Semua peralatan untuk ritual berasal dari alam sekitar, yang setelah digunakan akan kembali menyuburkan tanah. Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga harmoni dengan alam dalam menjalankan tradisi," katanya menambahkan.
Dalam kesempatan itu, Ia turut mengungkapkan rasa bangganya kepada para romo dukun dan umat Hindu di Tengger yang selalu diberikan kesehatan dan umur panjang untuk mengabdi kepada Tuhan dan leluhur.
Lebih lanjut, Prof. Duija juga menegaskan bahwa Hindu adalah agama Nusantara, tidak hanya di Bali tetapi juga di Jawa, seperti yang terlihat dalam prosesi Kasada. "Upacara ini merupakan bukti nyata bahwa tradisi Hindu yang hidup memiliki makna luar biasa," katanya.
Tak lupa, Prof. Duija juga mengajak semua yang hadir untuk berdoa demi keselamatan dan kesejahteraan seluruh umat manusia di dunia.
Sementara itu, Direktur Pendidikan Hindu (Trimo) menekankan pentingnya pelaksanaan Yadnya Kasada dalam konteks moderasi beragama.
"Ritual ini mencerminkan penerimaan terhadap kearifan lokal dan memberikan ruang bagi umat beragama lain seperti Muslim, Kristen, Katolik, dan Buddha untuk turut serta. Hal ini berkontribusi terhadap ketentraman dan kedamaian masyarakat di Bromo," katanya.
Hingga saat ini, umat Hindu di Tengger terus melestarikan dan meneruskan tradisi pemujaan kepada Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma.
Ritual Kasada menjadi teladan bahwa kehidupan beragama harus inklusif dan harmonis dengan semua golongan dengan harapan agar tradisi ini terus dilestarikan dan membawa berkah serta kesejahteraan bagi umat Hindu di Tengger dan sekitarnya.
Upacara Pawedalan Pura Luhur Poten Bromo dan Yadnya Kasada 2024 pun berakhir dengan khidmat dan penuh syukur.