BERITA

Piodalan Pura Segara Batu Putih dan Perayaan Hari Raya Saraswati di Kec. Ketapang Kab. Lampung Selat

Mengawali tahun 2017 dengan semangat baru dan energi yang baru umat Hindu merayakan salah satu Hari Suci yaitu Hari Raya Saraswati yang jatuh pada tanggal 21 Januari 2017, Sabtu Umanis Wuku Watugunung di rayakan dengan semarak. Bertepatan dengan perayaan saraswati juga dilaksanakan pujawali Pura Segara Batu Putih yang ada di Desa Ketapang Kecamatan Ketapang Kab. Lampung Selatan, Pura ini di adalah salah satu tempat suci umat Hindu yang memiliki vibrasi kesucian. awalnya pelaksanaan Pujawali Pura ini dilaksanakan pada purnama sasih kepitu tapi sesuai kesepakatan bersama tokoh spiritual dan pengempon pura maka di putuskan pelaksanaan piodalan di tetapkan pada hari raya saraswati. Penyungsung pura segara batu putih adalah umat Hindu yang ada di Kabupaten Lampung Selatan dan Kabupaten Lampung Timur yang berjumlah kurang lebih 12000 Jiwa.

"Pelaksanaan Pujawali Pura Segara Batu Putih sekarang ini merupakan yang ke 15 sejak upacara ngenteg linggih dilaksanakan, antusias umat Hindu untuk melaksanakan persembahyangan juga semakin meningkat kata I Wayan Sukanaya selaku Ketua Panitia Pujawali. Kegiatan pujawali diawali dengan mendak Ida Bhatara di segara(laut), mecaru dan menstanakan ida bhatara di gedong suci yang di puput oleh Tiga orang sulinggih: Ida Pandita Romo Broto Puja Sejati, Ida Sri Empu Dharma Sejati dan Ida Rsi Gunung Sari serta di Bantu oleh pemangku yang ada di Kecamatan Ketapang". Pujawali Pura Segara Batu Putih dan perayaan hari raya Saraswati di ikuti oleh 2000 umat Hindu di Kecamatan Ketapang yang terbagi dari Desa Bangun Rejo, Desa Sri Pendowo, Desa Sumbernadi, Desa Legundi, Desa Tri Dharma Yoga, Desa Ruguk, Desa Sumur.

Hadir Bapak I Nyoman Sudiarsa, S.Ag.,M.Si (Pembimas Hindu Provinsi Lampung) dan memberikan sambutan serta Dharma Wacana yang intinya dengan Perayaan Saraswati dan Pujawali Pura Segara Batu Putih umat Hindu dapat mengambil hikmahnya sebagai berikut: 1. Kita harus bersyukur kepada Hyang Widhi atas kemurahan-Nya yang telah menganugrahkan vidya (ilmu pengetahuan) dan kecerdasan kepada kita semua. 2. Dengan vidya kita harus terbebas dari avidya (kebodohan) dan menuju ke pencerahan, kebenaran sejati (sat) dan kebahagiaan abadi. 3. Selama ini secara spiritual kita masih tertidur lelap dan diselimuti oleh sang maya (ketidak-benaran) dan avidyam (kebodohan). Dengan vidya ini mari kita berusaha untuk melek/eling/bangun dan tidur kita, hilangkan selimut maya, sadarilah bahwa kita adalah atma, dan akhirnya tercapailah nirwana. 4. Kita belajar dan angsa untuk menjadi orang yang lebih bijaksana. Angsa bisa menyaring air, memisahkan makanan dan kotoran walaupun di air yang keruh/kotor atau lumpur. Juga jadilah orang baik, seperti buruk merak yang berbulu cantik, indah dan cemerlang walaupun hidupnya di hutan. 5. Kita masih memerlukan/mempelajari ilmu pengetahuan dan sains yang sekuler, tetapi harus diimbangi dengan ilmu spiritual dengan penghayatan dan bakti yang tulus. 6.Laksanakan Puja/sembahyang sesuai dengan kepercayaannya masing-masing secara sederhana dengan bakti yang tulus/ikhlas, bisa dirumah, kuil, atau pura dan lain-lain.

Makna hari suci itu sebagai motivasi bagaimana umat manusia bisa menghadirkan vibrasi kesucian ketiga hari suci tersebut kedalam diri dan dapat direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari. Vibrasi kesucian yang didapatkan sangat berguna bagi terciptanya ketentraman, ketenangan, kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan yang mendalam bagi umat manusia. Inilah makna yang paling mendalam dari piodalan pura. Pujawali Pura Segara Batu Putih dan hari Hari Raya Saraswati sebagai momentum untuk saling asah, asih, dan asuh antar semua ciptaan Hyang Widhi.
.