Abu Vulkanik Anak Krakatau Meluas, Penyuluh Lintas Agama Pringsewu Bagikan Masker dan Bersihkan Rumah Ibadah

Penyuluh Agama Hindu bersama penyuluh lintas agama membagikan masker kepada masyarakat sebagai respons terhadap paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Pringsewu, Lampung (Bimas Hindu)  Penyuluh lintas agama di Kabupaten Pringsewu bergerak bersama merespons sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Melalui Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI), para penyuluh membagikan ribuan masker kepada masyarakat sekaligus membersihkan sejumlah rumah ibadah, Selasa (8/9/2026).

Aksi dilakukan di kawasan Bundaran Tugu Gajah Pringsewu dengan menyasar pengguna jalan, mulai dari pengendara sepeda motor, pengemudi angkutan umum, hingga pejalan kaki. Masker dibagikan untuk membantu mengurangi paparan abu vulkanik yang berisiko mengganggu saluran pernapasan.

Selain turun ke jalan, para penyuluh juga melakukan bersih-bersih rumah ibadah yang terdampak abu, meliputi pura, masjid, gereja, dan vihara. Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa respons terhadap bencana dapat menjadi ruang kerja bersama lintas agama.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pringsewu Khuzil Afwa Kahuripan mengatakan situasi bencana membutuhkan kepedulian bersama tanpa melihat perbedaan latar belakang agama.

“Dalam situasi seperti ini, kita semua harus saling bahu-membahu tanpa memandang perbedaan. Dampak abu vulkanik ini cukup berbahaya bagi kesehatan saluran pernapasan. Oleh karena itu, kami mengimbau seluruh masyarakat untuk selalu mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah,” ujar Khuzil Afwa.

Aksi kemanusiaan tersebut melibatkan puluhan penyuluh dari berbagai agama di lingkungan Kemenag Kabupaten Pringsewu. Dari unsur Penyuluh Agama Hindu, Dewi Yunairi turut terlibat langsung bersama para penyuluh lintas agama lainnya dalam pembagian masker dan kegiatan pembersihan rumah ibadah.

Keterlibatan penyuluh Hindu bersama penyuluh lintas agama membuat aksi tersebut tidak hanya berorientasi pada perlindungan kesehatan masyarakat. Di tengah kondisi darurat, para penyuluh menunjukkan bahwa kerukunan dapat diwujudkan melalui kerja bersama ketika masyarakat menghadapi kesulitan.

Ribuan masker dibagikan secara langsung kepada masyarakat yang melintas di kawasan Tugu Gajah. Sementara pembersihan rumah ibadah dilakukan untuk membantu mengurangi sisa abu serta memastikan tempat ibadah tetap dapat digunakan dengan lebih nyaman.

Kegiatan tersebut menjadi contoh bahwa peran penyuluh agama tidak berhenti pada penyampaian materi keagamaan. Dalam situasi bencana, penyuluh juga dapat hadir melalui aksi sosial yang menjawab kebutuhan langsung masyarakat.

Melalui gerakan bersama tersebut, IPARI Pringsewu membawa dua pesan sekaligus: melindungi masyarakat dari risiko abu vulkanik dan menjaga solidaritas antarumat beragama di tengah bencana.


Berita Daerah LAINNYA