Blitar, Jawa Timur (Bimas Hindu) Upaya menghijaukan lingkungan pura dapat sekaligus mendukung kebutuhan keagamaan umat. Civitas akademika STAHN Jawa Dwipa menanam lima pohon bunga yang terdiri atas mawar, kenanga, dan kantil di lingkungan Pura Eka Dharma, Desa Tegalasri, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, Sabtu (12/9/2026).
Penanaman tersebut menjadi bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertema “Penguatan Kesadaran Masyarakat terhadap Lingkungan, Kesehatan dan Kesejahteraan Berbasis Ekoteologi” sekaligus mendukung penguatan ekoteologi dalam Asta Protas Kementerian Agama.
Pemilihan tanaman bunga memiliki manfaat ganda. Selain membuat kawasan pura lebih hijau dan asri, bunga juga memiliki fungsi penting sebagai salah satu sarana persembahan dalam berbagai upacara keagamaan Hindu. Dengan menanam dan merawat bunga di lingkungan pura, kebutuhan sarana upakara dapat dipenuhi sekaligus menumbuhkan kebiasaan merawat alam.
Sebanyak lima pohon bunga mawar, kenanga, dan kantil ditanam sebagai langkah awal mewujudkan lingkungan tempat suci yang lebih hijau. Jenis tanaman tersebut dipilih karena selain memiliki nilai estetika, bunganya juga dekat dengan kebutuhan keagamaan umat Hindu.
Ketua Panitia Suryanto mengatakan gagasan menjadikan pura sebagai kawasan hijau perlu dimulai dari tindakan sederhana dan dilakukan secara bertahap.
“Green Dharma sebagai bentuk pelaksanaan Dharma dalam konteks ekoteologi merupakan cita-cita mulia. Hal ini diwujudkan dalam bentuk menjaga kelestarian alam. Penanaman bunga di pura adalah awal dari kita mewujudkan hal tersebut, ibarat pepatah ketika kita akan memindahkan gunung, maka diawali dengan memindahkan kerikilnya,” ujar Suryanto.
Kegiatan tersebut juga menjadi bentuk penerapan nilai Palemahan dalam konsep Tri Hita Karana, yakni membangun hubungan harmonis antara manusia dan lingkungan. Pura tidak hanya dipandang sebagai tempat persembahyangan, tetapi juga sebagai ruang untuk menumbuhkan kesadaran ekologis umat.
Penanaman lima pohon bunga itu menunjukkan bahwa penguatan ekoteologi dapat dimulai dari langkah yang dekat dengan kehidupan umat. Merawat bunga di lingkungan pura tidak hanya memperindah tempat suci, tetapi juga menyediakan sarana upakara sekaligus menanamkan tanggung jawab untuk menjaga kelestarian alam.
Kontributor : Toto Margiyono