Galon Bekas Jadi Pot, 23 Murid Adi Widyalaya Karanganyar Belajar Kurikulum Cinta lewat Aksi Nyata

Murid Adi Widyalaya menanam dengan pot galon bekas

Karanganyar, Jawa Tengah (Bimas Hindu)  Kurikulum Cinta tidak hanya dikenalkan melalui teori di ruang kelas. Sebanyak 23 murid Adi Widyalaya Cahaya Saraswati diajak menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan melalui kegiatan menanam dan merawat tanaman dengan memanfaatkan galon bekas sebagai pot, Jumat (11/9/2026).

Kegiatan yang dikemas dalam program Jumat Bersih tersebut didampingi empat guru. Murid terlibat langsung menanam tanaman hias dan menyirami tanaman di lingkungan sekolah sebagai pengalaman belajar yang menanamkan rasa cinta dan tanggung jawab terhadap alam.

Salah satu bagian yang menjadi perhatian ialah pemanfaatan galon bekas air minum sebagai media tanam. Galon yang tidak lagi digunakan diolah kembali menjadi pot, sehingga murid tidak hanya belajar menanam, tetapi juga mengenal cara sederhana mengurangi sampah melalui pemanfaatan kembali barang bekas.

Wali Kelas II Ida Winarsih mengatakan penggunaan galon bekas menjadi bagian dari pembelajaran lingkungan sekaligus penerapan ekoteologi dan Kurikulum Cinta.

“Pemanfaatan galon bekas bukan sekadar solusi mengelola limbah plastik, melainkan wujud nyata kreativitas dalam menerapkan konsep upcycling, dan juga sebagai bagian dari penerapan ekoteologi serta Kurikulum Cinta. Dengan mengubah wadah yang tidak terpakai menjadi media tanam, kita turut menjaga kelestarian lingkungan,” ujar Ida Winarsih.

Dengan pendampingan guru, murid menyiapkan tanaman, memasukkannya ke dalam pot, kemudian menyiram tanaman yang telah ditanam. Aktivitas disesuaikan dengan usia murid sehingga pembelajaran berlangsung melalui pengalaman langsung, bukan sekadar penjelasan.

Kegiatan tersebut diarahkan untuk menumbuhkan nilai kasih sayang, kepedulian, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap lingkungan. Murid diajak memahami bahwa mencintai alam dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten di lingkungan sekolah.

Jumat Bersih juga menjadi praktik nilai Palemahan dalam Tri Hita Karana, yakni membangun hubungan harmonis antara manusia dan alam. Melalui kegiatan menanam dan merawat tanaman, nilai tersebut diperkenalkan dalam bentuk yang konkret dan mudah dipahami anak-anak.

Pendampingan guru tidak berhenti pada proses menanam. Murid juga dibiasakan bekerja sama, menjaga kebersihan, dan bertanggung jawab terhadap tanaman yang telah mereka rawat. Dengan demikian, kegiatan lingkungan menjadi bagian dari pembentukan kebiasaan sejak usia dini.

Dari galon bekas yang diubah menjadi pot, Adi Widyalaya Cahaya Saraswati menunjukkan bahwa Kurikulum Cinta dapat hadir melalui pengalaman sederhana. Pembelajaran tidak hanya membentuk pengetahuan, tetapi juga menanamkan kepedulian terhadap sesama, lingkungan, dan alam sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kontributor : Rama Ayu Argani


Berita Daerah LAINNYA