Boyolali, Jawa Tengah (Bimas Hindu) Berdana punia tidak harus menunggu memiliki kemampuan ekonomi besar. Pesan tersebut disampaikan kepada umat Hindu Desa Ngaru-aru dan sekitarnya saat kegiatan Anjangsana Hari Suci Tilem yang berlangsung di rumah Tugiyem, Kamis (10/9/2026). Dalam suasana yang sederhana dan akrab, umat sekaligus dikenalkan dengan Badan Dharma Dana Nasional (BDDN) dan Program Dana Punia Nasional.
Sosialisasi dilakukan Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Boyolali Rta Wahyu Sri Pamungkas. Momentum Tilem dipilih agar persembahyangan tidak hanya menjadi ruang meningkatkan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, tetapi juga menjadi pengingat bahwa Dharma dapat diwujudkan melalui kepedulian dan tindakan nyata bagi sesama.
“Berdana punia bukan sekadar persoalan memberikan uang. Lebih dari itu, dana punia merupakan bentuk nyata dari kepedulian, ketulusan, dan partisipasi umat dalam menjaga serta mengembangkan kehidupan Dharma,” ujar Rta Wahyu.
Dalam pembinaan tersebut, umat juga diajak memahami landasan dana punia dalam Bhagavad Gītā XVII.20. Sloka tersebut menjelaskan bahwa pemberian yang dilakukan karena kesadaran akan kewajiban, diberikan pada tempat dan waktu yang tepat kepada pihak yang layak, serta tanpa mengharapkan balasan, merupakan dana yang bersifat sattvika.
Pemahaman tersebut kemudian dikaitkan dengan keberadaan BDDN. Melalui lembaga tersebut, dana punia diharapkan dapat dikelola secara lebih terarah sehingga partisipasi umat yang dihimpun dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi kehidupan keagamaan dan kesejahteraan umat Hindu.
Menurut Rta Wahyu, semangat berdana punia tidak seharusnya membuat umat merasa terbebani oleh besarnya nominal. Kontribusi yang kecil sekalipun dapat memiliki arti ketika dilakukan secara bersama-sama dan dilandasi ketulusan.
“Ketika dana punia dikelola secara terarah, dana yang mungkin terlihat kecil dari satu orang dapat menjadi kekuatan yang besar ketika dilakukan bersama-sama. Karena itu, umat tidak perlu merasa bahwa dana punia hanya untuk mereka yang memiliki kemampuan ekonomi besar. Yang utama adalah ketulusan dan kesadaran untuk mengambil bagian dalam Dharma,” jelasnya.
Pendekatan melalui anjangsana juga membuat sosialisasi lebih dekat dengan kehidupan umat. Pertemuan yang semula menjadi ruang mempererat hubungan sosial dan keagamaan pada Hari Suci Tilem sekaligus dimanfaatkan sebagai media untuk mengenalkan program pelayanan keagamaan yang dapat diikuti umat.
Bagi sebagian peserta, pembinaan tersebut memberikan perspektif baru bahwa dana punia tidak selalu identik dengan pemberian dalam jumlah besar atau hanya dilakukan ketika ada kegiatan keagamaan. Dana punia dapat dimulai sesuai kemampuan masing-masing, selama dilakukan dengan kesadaran dan ketulusan.
Melalui Anjangsana Tilem tersebut, penyuluhan agama hadir dalam bentuk yang lebih dekat dan komunikatif. Pesannya sederhana: Dharma tidak hanya diwujudkan melalui doa dan persembahyangan, tetapi juga melalui kemauan untuk berbagi dan ikut mengambil bagian dalam kepentingan umat.