Karanganyar, Jawa Tengah (Bimas Hindu) Jumlah umat boleh terbatas, tetapi semangat untuk tetap bersembahyang dan merawat Dharma tidak ikut berkurang. Di Pura Ludha Bhuana Nglundo, para sesepuh Hindu tetap setia hadir dalam persembahyangan Jumat Legi, menjaga tradisi yang telah diwariskan turun-temurun sekaligus menghidupkan sraddha dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Keterbatasan regenerasi umat mulai dirasakan sejak sekitar 2007. Namun kondisi tersebut tidak membuat kehidupan spiritual di pura berhenti. Para sesepuh tetap datang, ngayah, bersembahyang, dan menjaga agar nilai-nilai Dharma terus hidup meski jumlah umat yang hadir tidak banyak.
Kesederhanaan justru menjadi kekuatan dalam persembahyangan tersebut. Lantunan kidung, suasana hening, dan ketekunan umat menghadirkan gambaran bahwa bhakti tidak selalu diukur dari besarnya sebuah kegiatan, tetapi dari ketulusan untuk tetap menjalankannya.
Supadi, salah satu pengempon sekaligus Jero Mangku Pura Ludha Bhuana Nglundo, menjelaskan bahwa persembahyangan Jumat Legi menjadi ruang bagi umat untuk menghaturkan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, khususnya kepada Ibu Dewi Sri atas hasil bumi, kesejahteraan, dan rezeki yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.
“Persembahyangan Jumat Legi menjadi ruang untuk mengucapkan rasa terima kasih atas hasil bumi yang telah diberikan kepada umat, selain rezeki dan hasil yang diperoleh melalui pekerjaan,” ungkap Supadi.
Bhakti umat juga diwujudkan melalui penghormatan kepada leluhur. Bagi umat Nglundo, leluhur bukan sekadar bagian dari masa lalu, tetapi sumber nilai, pengetahuan, dan laku spiritual yang terus diwariskan. Tradisi tersebut sekaligus menjadi bagian dari Pitra Yadnya serta pengingat akan pentingnya menjaga hubungan dengan Tuhan, sesama, dan alam.
Dalam persembahyangan tersebut, Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Karanganyar Supriyadi dan Yuanita turut hadir mendampingi umat. Supriyadi memberikan penguatan mengenai tata cara persembahyangan berdasarkan Upadesa, termasuk sikap dalam Trisandhya dan Panca Sembah. Pendampingan dilakukan secara perlahan dengan tetap menghargai kebiasaan dan tradisi yang telah lama dijalankan umat.
Ketekunan para sesepuh juga mendapat apresiasi. Keterbatasan jumlah umat tidak dipandang sebagai alasan untuk berhenti menjalankan kehidupan keagamaan. Justru dari konsistensi mereka terlihat bahwa kekuatan sebuah komunitas spiritual tidak semata-mata terletak pada jumlah, tetapi pada keteguhan untuk tetap menjalankan Dharma.
Selepas persembahyangan, umat menikmati prasadam yang sebagian besar berasal dari hasil bumi dan tanaman yang mereka rawat sendiri. Sederhana, tetapi di situlah nilai bhakti, kebersamaan, dan rasa syukur kembali menemukan bentuknya dalam kehidupan sehari-hari.
Dari Pura Ludha Bhuana Nglundo, para sesepuh memberi teladan bahwa sraddha dan bhakti tidak selalu hadir dalam kemeriahan. Datang ke pura, melantunkan doa, menjaga tradisi, merawat alam, menghormati leluhur, dan tetap tekun bersembahyang di tengah keterbatasan merupakan bentuk nyata pengabdian kepada Tuhan. Selama masih ada yang menjaga api spiritual itu, Dharma akan tetap hidup dan menemukan jalan untuk diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kontributor : Yuanita S.Ag