Tulang Bawang Barat, Lampung (Bimas Hindu) Derasnya informasi di media sosial membuat remaja tidak hanya dituntut mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan mengendalikan pikiran, menjaga perkataan, dan mempertanggungjawabkan tindakan. Nilai tersebut diperkuat kepada puluhan remaja Hindu Tiyuh Murnijaya dan Tegal Mukti melalui pembinaan Tri Kaya Parisudha, Kamis (10/9/2026).
Pembinaan berlangsung di Wantilan Pura Kahyangan Tunggal, Desa Tegal Mukti, Kecamatan Negeri Besar, bersama Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Tulang Bawang Barat Eko Sriwulan. Materi diarahkan agar Tri Kaya Parisudha tidak berhenti sebagai pengetahuan agama, tetapi menjadi pedoman menghadapi persoalan yang dekat dengan kehidupan remaja.
Melalui Manacika Parisudha, remaja diajak menjaga dan mengendalikan pikiran ketika menerima berbagai informasi dari media sosial. Kebiasaan berpikir sebelum bereaksi dinilai penting agar generasi muda tidak mudah terprovokasi atau mengikuti pengaruh negatif yang ditemui di ruang digital.
Sementara Wacika Parisudha diterapkan melalui kemampuan menjaga perkataan. Remaja didorong berbicara dengan santun dan jujur, tidak menghina maupun memfitnah, serta tidak ikut menyebarkan informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
Adapun Kayika Parisudha menekankan bahwa kebaikan tidak cukup hanya dipikirkan dan diucapkan. Nilai Dharma perlu terlihat melalui tindakan nyata, seperti menghormati orang tua dan guru, membantu sesama, menjaga lingkungan, mengikuti kegiatan keagamaan, serta melaksanakan kewajiban dengan bertanggung jawab.
“Tri Kaya Parisudha harus menjadi pedoman hidup bagi remaja Hindu. Manacika mengajarkan kita berpikir sebelum bertindak, Wacika mengajarkan kita menjaga setiap perkataan, dan Kayika mengajarkan kita membuktikan kebaikan melalui tindakan. Ketiganya harus berjalan bersama agar terbentuk pribadi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan memiliki kesadaran spiritual,” jelas Eko Sriwulan.
Menurut Eko, pendidikan agama bagi remaja perlu menyentuh persoalan nyata yang mereka hadapi. Karena itu, penerapan Tri Kaya Parisudha tidak hanya ditempatkan dalam konteks persembahyangan atau kegiatan di pura, tetapi juga dalam kehidupan keluarga, sekolah, masyarakat, hingga ruang digital.
Di rumah, nilai tersebut dapat diwujudkan dengan menghormati orang tua, berbicara santun, dan membantu keluarga. Di sekolah, remaja didorong untuk jujur dalam belajar, menghargai guru dan teman, tidak melakukan perundungan, serta bertanggung jawab terhadap tugas. Sementara di masyarakat, penerapannya terlihat melalui kepedulian, gotong royong, menjaga lingkungan, dan keterlibatan dalam kegiatan sosial maupun keagamaan.
Melalui pembinaan tersebut, remaja Hindu Tiyuh Murnijaya dan Tegal Mukti diharapkan memiliki sradha dan bhakti sekaligus kecakapan moral menghadapi perkembangan zaman. Tri Kaya Parisudha menjadi pengingat bahwa karakter Hindu tidak hanya terlihat ketika berada di tempat ibadah, tetapi juga dari cara berpikir, berkomunikasi, dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari termasuk di media sosial.