Ambon (Bimas Hindu) – Di bawah langit malam Purnama yang syahdu di Pura Siwa Stana Giri, Kota Ambon, Minggu (31/5), seberkas senyum kehangatan terpancar dari wajah para Pinandita dan Serati Banten. Malam itu bukan sekadar ritual persembahyangan biasa, melainkan momentum bersejarah yang menandai babak baru perlindungan sosial bagi mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk melayani umat.
Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Provinsi Maluku, Wayan Shantika, S.Kom., bersama Kepala Cabang BPJS Ketenagakerjaan Maluku, Heru Siswanto, menyerahkan Kartu BPJS Ketenagakerjaan secara simbolis kepada perwakilan pelayan umat. Di balik selembar kartu tersebut, tersimpan kisah kepedulian yang mendalam, sebuah gerakan cepat (gercep) kemanusiaan yang lahir dari ketulusan dan empati.
Inovasi perlindungan ini tidak lahir begitu saja di ruang rapat yang dingin. Gerakan ini dipicu oleh sebuah fenomena pilu yang kerap luput dari pandangan mata: kisah seorang Pinandita yang sepanjang hidupnya tulus melayani, memimpin upacara, dan menguatkan batin umat. Namun, ketika sang suluh suci berpulang ke hadapan Sang Pencipta, keluarganya justru didera kebingungan dan kesulitan finansial yang luar biasa untuk membiayai upacara pengabenannya.
"Mereka menjaga spiritualitas kita saat hidup, namun mengapa kita membiarkan keluarga mereka kesulitan saat kedukaan menjemput?" Refleksi mendalam inilah yang memacu Wayan Shantika untuk segera bergerak. Berbekal pengalaman berharga di tempat tugas terdahulunya di Kabupaten Luwu Utara dan Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan di mana skema jaminan kematian BPJS Ketenagakerjaan telah sukses diterapkan bagi pemuka agama. Wayan bertekad membawa solusi serupa ke bumi Maluku.
Tanpa menunda waktu, koordinasi cepat langsung dibangun dengan BPJS Ketenagakerjaan setempat. Langkah taktis ini diperkuat secara legal formal oleh Perjanjian Kerja Sama (PKS) strategis berskala nasional yang telah ditandatangani oleh Direktur Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan, Agung Nugroho, bersama Ketua Umum PHDI Pusat, Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya, pada momentum Puncak Dharmasanti Nasional 2026, Jumat, 17 April lalu.
Namun, birokrasi sering kali membutuhkan waktu, sementara risiko hidup tidak pernah bisa menunggu. Demi mempercepat realisasi jaminan perlindungan ini, Wayan Shantika mengambil keputusan pribadi untuk melakukan dana punia pribadi untuk menanggung iuran pertama kepesertaan bagi 42 orang Pinandita dan Serati Banten.
Langkah ini bukan sekadar bantuan finansial, melainkan sebuah stimulasi moral. Wayan berharap tindakan nyata ini dapat menggugah kesadaran kolektif umat Hindu di Maluku tentang esensi Rsi Yadnya, sebuah konsep persembahan suci dan penghormatan tulus kepada para guru spiritual, orang suci, dan pelayan umat yang telah mendedikasikan waktu mereka untuk membimbing umat.
Meski senyum telah terkembang dari 42 penerima manfaat pertama, perjuangan kemanusiaan ini belumlah tuntas. Berdasarkan data lapangan, diperkirakan masih ada lebih dari 60 Pinandita dan sekitar 100 Serati Banten yang tersebar di berbagai pelosok Provinsi Maluku. Artinya, masih ada lebih dari separuh pelayan umat yang belum tercover oleh perlindungan jaminan sosial ini.
Ke depan, Bimas Hindu Maluku telah merancang peta jalan keberlanjutan (sustainability) program ini agar tidak bergantung pada punia pribadi. Skema gotong royong sedang dirumuskan, di mana iuran bulanan nantinya akan ditanggung secara mandiri dan melembaga oleh lembaga-lembaga keagamaan Hindu di Maluku, organisasi keagamaan, hingga jajaran pengurus rumah ibadah (Pura).
"Harapan besar kami ke depan, perlindungan ini tidak hanya menyasar Pinandita dan Serati Banten saja. Kami ingin meluaskannya hingga menyentuh para pengurus lembaga agama dan keagamaan di seluruh Maluku," ungkap Wayan Shantika.
"Kita ingin memastikan bahwa ketika kedukaan itu datang yaitu suatu keniscayaan yang pasti dialami oleh setiap manusia, keluarga yang ditinggalkan tidak perlu lagi bingung memikirkan biaya upacara. Mereka bisa melepas kepergian sang pelayan umat dengan layak, tenang, dan penuh kehormatan," pungkasnya.
Melalui sinergi kemanusiaan ini, umat Hindu di Maluku sedang menuliskan pesan indah: bahwa merawat kehidupan beragama yang harmonis dan berkualitas harus dimulai dengan memanusiakan serta melindungi kesejahteraan mereka yang berdiri di garda terdepan pelayanan suci.