Banyuwangi (Bimas Hindu) — Komitmen menekan angka perkawinan usia anak serta memperkuat ketahanan keluarga dari hulu terus digencarkan hingga ke tingkat sekolah. Melalui unit layanan Rumah Bina Keluarga Sukinah (RBKS), jajaran Bimas Hindu menyelenggarakan program Bimbingan Pranikah bagi Remaja Hindu Usia Sekolah di SMK PGRI Pesanggaran, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, (Selasa, 27/10/2026).
Kegiatan edukasi ini diikuti oleh 50 siswa lintas jenjang kelas untuk membangun pemahaman komprehensif mengenai tanggung jawab fase pergaulan remaja, literasi etika bermedia sosial, mitigasi risiko pernikahan dini, serta penyiapan kematangan mental sebelum kelak melangkah ke jenjang rumah tangga.
Inisiatif pembinaan pranikah sejak bangku sekolah ini sejalan dengan agenda prioritas nasional Kementerian Agama RI dalam mempercepat pencegahan stunting dan mengeliminasi pernikahan di bawah umur melalui edukasi preventif yang terstruktur.
Kepala SMK PGRI Pesanggaran, Umi Qowiyah, mengapresiasi sinergi institusional yang terjalin dalam memberikan bekal moralitas bagi para peserta didiknya.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada jajaran Kementerian Agama atas perhatian dan pendampingan nyata ini. Kehadiran 50 siswa yang secara sukarela meluangkan waktu untuk belajar memperlihatkan semangat generasi muda yang patut diapresiasi. Kami berharap materi pembinaan ini benar-benar diresapi dan diterapkan dalam keseharian agar para siswa memiliki benteng pergaulan yang kokoh,” tutur Umi Qowiyah.
Pada sesi pembekalan materi, Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, Oksan Wibowo, membedah fase tumbuh kembang remaja berdasarkan ajaran suci Catur Asrama, khususnya kewajiban moral pada masa Brahmacari.
“Dalam konsep ajaran Hindu, adik-adik saat ini berada pada tahapan suci Brahmacari, yaitu masa keemasan untuk menuntut ilmu, menempa karakter, mengendalikan hawa nafsu, serta mengembangkan potensi diri. Jangan terburu-buru ingin memasuki fase Grehasta atau berumah tangga sebelum waktunya. Menikah bukan sekadar menyatukan dua insan, melainkan menuntut kematangan mental, kemandirian spiritual, kedewasaan berpikir, dan tanggung jawab penuh,” tegas Oksan Wibowo di hadapan para pelajar.
Selain kesiapan pranikah, Oksan juga mengingatkan para siswa agar memiliki ketahanan digital di tengah gempuran arus teknologi informasi dan media sosial yang kian masif.
“Gunakan gawai dan teknologi digital untuk sarana belajar, menambah wawasan pengetahuan, dan mengasah keterampilan hidup. Jangan sampai waktu produktif masa muda terbuang sia-sia akibat kecanduan ruang digital. Kalian yang harus mengendalikan teknologi, bukan justru dikendalikan olehnya,” tambah Oksan.
Melalui optimalisasi layanan RBKS yang menyasar lingkungan pendidikan formal di Pesanggaran ini, Ditjen Bimas Hindu menegaskan tekadnya untuk mendampingi generasi muda agar tumbuh sehat, cakap literasi, serta berkarakter dharma demi masa depan bangsa yang tangguh.
Kontributor: Yayan Bimantara