Mamuju, Sulawesi Barat (Bimas Hindu) Derasnya informasi dari media sosial membuat generasi muda memiliki semakin banyak pilihan, tetapi tidak semuanya sejalan dengan nilai Dharma. Karena itu, pelajar Hindu di SMPN 01 Sampaga, Kabupaten Mamuju, diajak memperkuat Sraddha dan Bhakti agar memiliki pijakan dalam menghadapi perkembangan zaman.
Penguatan tersebut dilakukan melalui Dharma Tula bertema “Mengenal Asta Aiswarya untuk Memperkuat Sraddha dan Bhakti Generasi Muda Hindu”, Kamis (10/9/2026). Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Mamuju Komang Agus Sukra A. mengajak peserta memahami Widhi Tattwa, khususnya Asta Aiswarya, yakni delapan kemahakuasaan Hyang Widhi Wasa.
Asta Aiswarya meliputi Anima, Laghima, Mahima, Prapti, Prakamya, Isitwa, Wasitwa, dan Yatrakama Wasayitwa. Pembelajaran tidak diarahkan hanya untuk menghafal delapan istilah tersebut, tetapi untuk membantu peserta memahami kemahakuasaan Hyang Widhi sebagai dasar memperkuat keyakinan.
“Mengenal Asta Aiswarya bukan sekadar menghafal delapan istilah. Di balik ajaran itu ada pesan yang sangat mendasar, yaitu menyadarkan kita bahwa Hyang Widhi memiliki kemahakuasaan yang tidak terbatas. Kesadaran inilah yang harus kita tanamkan sejak dini agar Sraddha generasi muda tumbuh bukan karena ikut-ikutan, tetapi karena memahami dan meyakini,” tegas Komang Agus.
Menurut Komang Agus, tantangan generasi muda saat ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Kemudahan memperoleh informasi melalui teknologi membawa banyak manfaat, namun juga menghadirkan beragam nilai dan pengaruh yang perlu disikapi secara bijak.
“Hari ini anak-anak kita hidup di tengah banjir informasi. Apa pun bisa mereka lihat dan dengar melalui media sosial. Karena itu, jangan hanya membekali mereka dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi bekali juga dengan Sraddha. Teknologi memberi mereka banyak pilihan, sementara Sraddha memberikan mereka arah dalam menentukan pilihan,” ujarnya.
Penguatan Sraddha juga diarahkan agar nilai agama tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Bhakti tidak hanya dimaknai sebagai persembahyangan, tetapi juga melalui sikap menghormati orang tua dan guru, jujur dalam belajar, tidak menyakiti teman, menjaga lingkungan, serta bertanggung jawab terhadap tugas.
Dalam Dharma Tula tersebut, peserta diajak menghubungkan pemahaman Widhi Tattwa, Sraddha, Bhakti, dan karakter. Diskusi berlangsung interaktif karena peserta diberi ruang untuk bertanya sekaligus mengaitkan materi Asta Aiswarya dengan pengalaman mereka sebagai pelajar.
Komang Agus menekankan bahwa pembentukan karakter generasi muda memerlukan proses yang berkelanjutan melalui penanaman nilai, keteladanan, dan ruang dialog.
“Kita tidak ingin generasi muda hanya menjadi generasi yang tahu agama, tetapi kita ingin mereka menjadi generasi yang memiliki keyakinan, memahami makna ajaran, dan mampu mengamalkannya. Pengetahuan agama harus turun dari kepala ke hati, kemudian diwujudkan melalui tindakan,” tutur Komang Agus.
Melalui pembinaan tersebut, pelajar Hindu di Mamuju diharapkan tidak hanya mengetahui ajaran agama, tetapi juga memahami, meyakini, dan menerapkannya. Di tengah derasnya informasi dan perkembangan teknologi, Sraddha diharapkan menjadi kompas agar generasi muda mampu menentukan arah tanpa kehilangan jati diri Hindu.