Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (Bimas Hindu) Doa dalam ajaran Hindu tidak cukup hanya dihafalkan. Kebiasaan berdoa perlu dipahami maknanya dan diterapkan dalam aktivitas sehari-hari agar dapat membentuk rasa syukur, disiplin, serta kesadaran menjalani kehidupan sesuai Dharma. Pesan tersebut menjadi fokus pembinaan kepada 30 sisya Pasraman Widya Dharma Lombok Tengah, Selasa (8/9/2026).
Pembinaan berlangsung di Wantilan Pura Bhuana Kertha Jenggala bersama Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Lombok Tengah Kadek Riana Pramesti dan Bagus Kusuma Putra.
Materi dikemas melalui penjelasan dan praktik langsung. Para sisya tidak hanya diperkenalkan pada berbagai doa, tetapi juga diajak memahami kapan doa digunakan, seperti sebelum belajar, sebelum makan, menjelang tidur, maupun saat memulai aktivitas.
Kadek Riana Pramesti menekankan bahwa kebiasaan berdoa sejak dini dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter anak.
“Doa jangan hanya dihafalkan, tetapi dipahami dan dibiasakan. Dari kebiasaan berdoa, anak-anak belajar bersyukur, disiplin, serta menyadari pentingnya menjalankan kehidupan sesuai dengan Dharma,” ujar Kadek.
Pendekatan tersebut membuat pembelajaran agama lebih dekat dengan keseharian sisya. Doa tidak ditempatkan hanya sebagai materi yang harus diketahui, tetapi sebagai kebiasaan spiritual yang dapat menyertai berbagai aktivitas.
Bagus Kusuma Putra mengatakan pembinaan kepada generasi muda perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan cara yang mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan mereka.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya mengetahui berbagai jenis doa, tetapi juga memahami kapan dan mengapa doa tersebut dilakukan. Ketika doa menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari, nilai-nilai agama akan lebih mudah diterapkan dalam sikap dan perilaku,” ungkap Bagus.
Suasana pembinaan berlangsung interaktif. Sisya diberi kesempatan mempraktikkan doa sekaligus memahami penerapannya dalam berbagai situasi.
Melalui pembiasaan sederhana tersebut, Penyuluh Agama Hindu Lombok Tengah berharap doa dapat menjadi pintu masuk untuk membangun fondasi spiritual generasi muda. Dari kebiasaan berdoa, diharapkan tumbuh sisya yang memiliki sradha dan bhakti, disiplin, rasa syukur, serta karakter yang selaras dengan nilai-nilai Dharma.
Kontributor : Putu Pande