Bangli (Bimas Hindu) — Gemuruh doa dan persembahan suci membumbung di kawasan Pura Tuluk Biyu Batur, menggetarkan kesadaran ribuan umat akan pentingnya menjaga benteng ekologi Pulau Bali. Rangkaian ritual Medewasraya yang meliputi upacara Taur Labuh Gentuh dan Mapekelem menjadi aksi nyata menerjemahkan doktrin agama menjadi gerakan konservasi alam di kawasan Danau dan Gunung Batur pada Senin (21/9/2026).
Upacara yang berlangsung di Desa Adat Batur, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli ini menyatukan dimensi spiritual dengan aksi pemulihan lingkungan. Danau Batur dan kawasan pegunungan sekitarnya memegang peranan krusial sebagai hulu pasokan air bersih serta penopang ekosistem pertanian untuk sebagian besar wilayah Bali. Lewat prosesi Mapekelem, umat mempersembahkan sarana ritual ke dalam air danau dan puncak gunung sebagai bentuk pemuliaan serta komitmen menjaga kesucian sumber daya alam.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bangli memaparkan bahwa integrasi nilai keagamaan dan kepedulian lingkungan ini merupakan manifestasi dari pilar Ekoteologi yang menjadi salah satu program unggulan Asta Protas Kementerian Agama.
"Ritual Mapekelem bukan sekadar prosesi mempersembahkan sarana di danau dan gunung, melainkan janji moral umat Hindu untuk tidak mencemari hulu air, menghentikan eksploitasi kawasan resapan, dan merawat kebersihan lingkungan Batur secara konsisten. Agama memberikan landasan etis, tetapi tindakan konkrit pengolahan lingkunganlah yang menyelamatkan ekosistem," tegasnya saat mendampingi jajaran Kankemenag Bangli dan Penyuluh Agama Hindu di lokasi upacara.
Ia menjelaskan, langkah ini sejalan dengan Asta Cita Presiden dalam memperkuat keselarasan hidup dengan alam serta menjamin keberlanjutan sumber daya air dan lingkungan hidup bagi generasi mendatang. Dalam perspektif filsafat Tri Hita Karana, khususnya konsep Palemahan, alam tidak dipandang sebagai objek eksploitasi, melainkan bagian hidup yang berkekuasaan sakral dan wajib dilindungi.
Guna memastikan pesan ekologis ini berdampak jangka panjang, Penyuluh Agama Hindu Kemenag Bangli diterjunkan untuk mengawal penguatan edukasi masyarakat adat. Para penyuluh mengedukasi warga agar momentum keagamaan di Pura Tuluk Biyu Batur ini berlanjut pada aksi penataan sampah mandiri, pematuhan zona ruang suci, serta penanaman pohon di catchment area Danau Batur. Sinergi antara ritual adat, edukasi keagamaan, dan aksi konservasi ini diharapkan mampu menjaga Batur tetap menjadi hulu kehidupan yang lestari dan harmonis.