Tri Parartha Jadi Bekal Remaja Hindu Cegah Perundungan dan Jaga Etika Digital

Remaja Hindu belajar Tri Parartha cegah perundungan

Abang (Bimas Hindu)  Nilai Asih, Punia, dan Bhakti dalam ajaran Tri Parartha dikenalkan kepada 24 remaja Hindu di Pasraman Taman Giri Yowana Sucita, Banjar Adat Batumadeg, Desa Tista, Kecamatan Abang, sebagai bekal menghadapi tantangan pergaulan modern, termasuk mencegah perundungan dan membangun etika di ruang digital.

Pembinaan yang dilakukan Penyuluh Agama Hindu dan Penata Layanan Operasional Kecamatan Abang, Rabu (2/9/2026), tidak berhenti pada pemahaman konsep keagamaan. Para remaja diajak menghubungkan Tri Parartha dengan perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai Asih ditekankan sebagai dasar untuk saling menghormati dan menjaga perasaan orang lain. Punia dimaknai tidak sebatas pemberian materi, tetapi juga kepedulian melalui waktu, tenaga, dan perhatian. Sementara Bhakti diwujudkan melalui kesungguhan belajar serta kepedulian terhadap lingkungan.

Penyuluh Agama Hindu I Putu Agus Ananta Wijaya Sari menegaskan bahwa generasi muda Hindu tidak cukup hanya dibentuk menjadi generasi yang cerdas, tetapi juga perlu memiliki karakter dan kepedulian terhadap sesama.

“Remaja Hindu jangan hanya bercita-cita menjadi generasi yang pintar, tetapi juga harus menjadi generasi yang memiliki hati. Asih membentuk hati yang penuh kasih, Punia menggerakkan tangan untuk berbagi, dan Bhakti mengarahkan kehidupan untuk selalu berada di jalan Dharma,” ujar Agus Ananta.

Pendekatan tersebut menjadi relevan ketika pergaulan remaja tidak lagi hanya berlangsung di lingkungan keluarga dan masyarakat, tetapi juga di ruang digital. Karena itu, peserta diajak berdiskusi dan merefleksikan tata krama dalam berbagai ruang interaksi, termasuk etika bermedia sosial.

Melalui diskusi tersebut, Tri Parartha ditempatkan bukan sekadar sebagai ajaran yang dihafalkan, tetapi sebagai nilai yang dapat diterapkan untuk membangun empati, menghindari perilaku yang menyakiti orang lain, serta menjaga sikap dalam komunikasi langsung maupun digital.

Ketua Pasraman Taman Giri Yowana Sucita, I Gede Arya Parwata, menilai pendekatan keagamaan yang kontekstual penting agar nilai Dharma tetap dekat dengan kehidupan remaja.

“Kami sangat berkomitmen memperkuat pendidikan keagamaan melalui pendekatan yang kontekstual dan dekat dengan keseharian remaja. Sinergi dengan Penyuluh ini sangat membantu memberikan penguatan karakter bagi generasi muda kami agar senantiasa berpegang pada ajaran Dharma,” ujar Parwata.

Melalui penguatan Tri Parartha, pasraman dan Kemenag Karangasem mendorong lahirnya generasi muda Hindu yang tidak hanya berkembang secara akademis, tetapi juga memiliki integritas, empati sosial, dan ketangguhan dalam menghadapi dinamika zaman.


Berita Daerah LAINNYA