Mengenal Maluput Hajat, Tradisi Syukuran Rumah dalam Hindu Kaharingan yang Serupa Melaspas di Bali

Penyelenggara Hindu Kementerian Agama Kabupaten Barito Utara memimpin prosesi Maluput Hajat, tradisi syukuran rumah umat Hindu Kaharingan di Desa Pelari, Kalimantan Tengah.

Barito Utara, Kalimantan Tengah (Bimas Hindu) Indonesia memiliki kekayaan tradisi Hindu yang berkembang sesuai kearifan lokal di setiap daerah. Jika umat Hindu di Bali mengenal Melaspas sebagai upacara penyucian rumah sebelum ditempati, masyarakat Hindu Kaharingan di Kalimantan memiliki tradisi Maluput Hajat. Meski berbeda dalam tata cara pelaksanaannya, kedua tradisi tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa serta memohon keselamatan, kedamaian, dan keharmonisan bagi penghuni rumah.

Tradisi Maluput Hajat kembali dilaksanakan oleh keluarga Wiro dan Pitus di Desa Pelari, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, Rabu (6/8/2026), sebagai ungkapan syukur atas rampungnya pembangunan rumah mereka sehingga siap ditempati. Bagi masyarakat Hindu Kaharingan, ritual ini menjadi momentum memohon berkah kepada Ranying Hatalla Langit agar rumah yang baru dibangun membawa kebahagiaan, kesejahteraan, serta kedamaian bagi seluruh anggota keluarga.

Rangkaian Maluput Hajat diawali dengan Basarah atau persembahyangan yang dipimpin oleh Mantir Basarah. Dalam prosesi tersebut turut dipersembahkan sesajen sebagai simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus persembahan kepada Butha Kala. Seluruh rangkaian ritual menjadi ungkapan rasa syukur atas perlindungan dan kelancaran selama proses pembangunan rumah hingga selesai.

Guru Agama Hindu Nuna Alpina menjelaskan bahwa ritual-ritual dalam Hindu Kaharingan bukan sekadar tradisi yang lahir dari kebiasaan masyarakat, melainkan memiliki landasan ajaran keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun.

"Seluruh rangkaian ritual keagamaan Hindu Kaharingan, mulai dari upacara yang paling sederhana hingga yang terbesar, merupakan warisan ajaran suci yang telah diajarkan oleh Ranying Hatalla kepada keturunan Maha Raja Bunu sebelum mereka diturunkan ke dunia," jelas Nuna Alpina.

Nuna menambahkan bahwa setiap tata cara ritual tersebut menjadi pedoman hidup umat Hindu Kaharingan yang terus dijaga keberlangsungannya dari generasi ke generasi.

"Setiap tata cara ritual yang dilaksanakan oleh umat Hindu Kaharingan memiliki landasan keagamaan yang kuat dan menjadi pedoman hidup yang terus dijaga serta dilestarikan dari generasi ke generasi," ujar Nuna.

Pelaksanaan Maluput Hajat kali ini turut didampingi Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barito Utara, Wandi, bersama Guru Agama Hindu Mama Almiance serta pengurus Majelis Kelompok Agama Hindu Kaharingan Desa Pelari. Dalam prosesi tersebut, Wandi dipercaya masyarakat sebagai Mantir Basarah yang memimpin jalannya persembahyangan.

Kehadiran aparatur Kementerian Agama dalam ritual tersebut mencerminkan komitmen Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu untuk terus hadir di tengah umat, tidak hanya melalui pembinaan administrasi keagamaan, tetapi juga dengan mendampingi pelaksanaan tradisi yang hidup di masyarakat. Di berbagai daerah, aparatur Bimas Hindu kerap dipercaya menjadi pemimpin upacara maupun pendamping ritual karena memiliki pemahaman terhadap ajaran agama dan tradisi Hindu setempat. Melalui pendekatan tersebut, Kementerian Agama berupaya memastikan tradisi-tradisi Hindu Nusantara, seperti Maluput Hajat di Kalimantan maupun Melaspas di Bali, tetap lestari sebagai bagian dari kekayaan spiritual dan budaya bangsa.

Kontributor : Wandi


Berita Daerah LAINNYA