Tanggamus, Lampung (Bimas Hindu) Sembahyang malam Kamis Kliwon di Dusun Sidorukun, Desa Kota Agung, Kecamatan Kota Agung Pusat, Kabupaten Tanggamus, tidak hanya menjadi rutinitas keagamaan. Umat Hindu memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkuat sraddha dan bhakti sekaligus menghayati kembali Panca Sradha sebagai dasar keyakinan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Persembahyangan yang berlangsung Rabu (16/9/2026) dipimpin Romo Mangku Budi. Selain menjadi sarana mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, kegiatan juga diarahkan sebagai ruang refleksi untuk menenangkan pikiran, menyucikan hati, dan memperkuat kesadaran dalam menjalankan Dharma.
Dalam pembinaan, umat diajak memahami bahwa Panca Sradha bukan sekadar materi yang dihafalkan. Lima dasar keyakinan tersebut meliputi Widhi Sradha, Atma Sradha, Karmaphala Sradha, Punarbhawa Sradha, dan Moksa Sradha.
Pemahaman tersebut digunakan untuk membantu umat melihat hubungan antara keyakinan dan perilaku. Kesadaran terhadap Tuhan, keberadaan Atman, hukum Karmaphala, Punarbhawa, dan Moksa diharapkan mendorong umat untuk lebih berhati-hati dalam berpikir, berkata, dan bertindak.
Romo Mangku Budi menegaskan bahwa nilai sembahyang baru benar-benar terasa ketika dibawa keluar dari ruang ritual dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Sembahyang bukan hanya tentang menundukkan kepala di hadapan Tuhan, tetapi juga tentang menundukkan ego, membersihkan hati, dan memperbaiki perilaku. Panca Sradha hendaknya tidak berhenti pada pemahaman, tetapi diwujudkan dalam kehidupan nyata melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik,” tutur Romo Mangku Budi.
Penghayatan Panca Sradha juga menjadi bekal spiritual umat dalam menghadapi dinamika kehidupan. Keyakinan terhadap hukum sebab-akibat, misalnya, mengingatkan bahwa setiap tindakan membawa konsekuensi sehingga kehidupan perlu dijalani dengan kesadaran dan tanggung jawab.
Dengan demikian, sembahyang malam Kamis Kliwon di Sidorukun tidak berhenti sebagai rangkaian ritual. Dari persembahyangan, umat diajak bergerak menuju penghayatan; dari keyakinan menuju pengamalan; dan dari pemahaman agama menuju perubahan perilaku.
Melalui pembinaan tersebut, Panca Sradha ditempatkan sebagai pondasi spiritual yang menuntun umat untuk memperkuat sraddha, bhakti, susila, serta tanggung jawab dalam setiap tindakan. Kedekatan kepada Tuhan pada akhirnya diharapkan tercermin pula dalam semakin baiknya hubungan dengan sesama dan lingkungan.
Kontributor : Eko Sriwulan