Banyumas (Bimas Hindu) - Tradisi Wilujengan Malam Selasa Kliwon kembali digelar Paguyuban Pringgo Murti di Pura Pedaleman Giri Kendeng, Desa Klinting, Kabupaten Banyumas, Senin malam (10/8/2026). Kegiatan tersebut diikuti anggota paguyuban dan umat Hindu setempat sebagai bagian dari keberlanjutan tradisi spiritual Hindu Jawa.
Pelaksanaan Wilujengan menjadi ruang bagi umat untuk menjalankan laku keagamaan sekaligus merawat tradisi yang diwariskan para leluhur. Prosesi berlangsung dalam suasana khidmat dan diikuti dengan kebersamaan antarpeserta.
Karsim, ketua sekaligus tokoh sepuh Paguyuban Pringgo Murti, memimpin prosesi Wilujengan. Ia mengatakan tradisi tersebut memiliki makna spiritual sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga warisan leluhur.
“Tradisi Wilujengan merupakan warisan budaya dan spiritual yang perlu terus dijaga sebagai bentuk nguri-uri keluhuran tradisi dalam menjalankan laku manembah kepada Hyang Widhi Wasa,” ujar Karsim.
Menurut Karsim, Wilujengan juga menjadi momentum untuk menyampaikan rasa syukur atas keselamatan dan anugerah yang diterima umat. Tradisi tersebut sekaligus mempertemukan umat dalam suasana kebersamaan.
“Wilujengan menjadi wujud rasa syukur atas berkah dan keselamatan yang diberikan Hyang Widhi Wasa. Melalui kegiatan ini, kebersamaan dan penghormatan terhadap tradisi leluhur dapat terus dijaga,” katanya.
Setelah prosesi Wilujengan, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa dan persembahyangan bersama yang dipimpin Mangku Budi. Umat mengikuti persembahyangan sebagai ungkapan bhakti kepada Hyang Widhi Wasa serta memanjatkan doa untuk keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan.
Kegiatan kemudian ditutup dengan tradisi kepungan atau makan prasadam bersama. Peserta menikmati hidangan secara bersama dalam suasana akrab dan kekeluargaan.
Kepungan menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan karena mempertemukan umat dalam suasana yang lebih cair setelah mengikuti prosesi keagamaan. Tradisi makan bersama tersebut juga menjadi ruang untuk membangun komunikasi dan mempererat persaudaraan.
“Kami ingin tradisi ini tetap hidup dan dijalankan bersama. Bukan hanya sebagai kegiatan ritual, tetapi juga sebagai ruang untuk mempererat persaudaraan umat,” kata Karsim.
Pelaksanaan Wilujengan Malam Selasa Kliwon menunjukkan bahwa kehidupan keagamaan umat Hindu Jawa di Banyumas berjalan berdampingan dengan tradisi lokal yang diwariskan antargenerasi.
Pura Pedaleman Giri Kendeng menjadi salah satu ruang penting bagi umat untuk menjalankan kegiatan keagamaan dan menjaga keberlanjutan tradisi. Melalui keterlibatan anggota paguyuban dan umat setempat, berbagai praktik spiritual tetap memperoleh ruang dalam kehidupan masyarakat.
Bagi Paguyuban Pringgo Murti, keberlanjutan Wilujengan menjadi bagian dari menjaga nilai syukur, bhakti, kebersamaan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur. Tradisi tersebut terus dijalankan melalui keterlibatan umat dalam setiap rangkaian kegiatan.
Wilujengan Malam Selasa Kliwon pada akhirnya tidak hanya menghadirkan ritual keagamaan, tetapi juga mempertemukan unsur spiritual dan sosial dalam satu kegiatan. Dari Pura Pedaleman Giri Kendeng, tradisi terus dirawat melalui doa, persembahyangan, dan kebersamaan umat.
Kontributor : I Made Juni Saputra