Jakarta (Bimas Hindu) – Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama bekerja sama dengan Relawan Jurnal Indonesia (RJI) menyelenggarakan Pelatihan dan Uji Kompetensi Guru Widyalaya Pascapendidikan Profesi Guru (PPG) secara daring melalui Zoom. Program ini difokuskan pada penguatan literasi ilmiah dan keterampilan pemanfaatan teknologi informasi dalam penulisan artikel ilmiah.
Pelatihan yang mengusung skema Penerapan Teknologi Informasi dalam Penulisan Artikel Ilmiah tersebut berlangsung pada 19–31 Oktober 2026. Rangkaian kegiatan diawali dengan sosialisasi dan pengenalan Learning Management System (LMS) pada 19–22 Oktober, dilanjutkan pembelajaran mandiri secara asinkron pada 22–28 Oktober. Peserta selanjutnya mengikuti bimbingan teknis pada 30 Oktober dan dijadwalkan menjalani uji kompetensi pada 31 Oktober 2026.
Program yang seluruh pembiayaannya bersumber dari DIPA Ditjen Bimas Hindu ini menyasar guru pada satuan pendidikan Widyalaya yang telah memiliki sertifikat pendidik, berusia maksimal 45 tahun, serta memiliki kecakapan dalam penggunaan teknologi digital. Peserta juga diwajibkan memenuhi persyaratan administrasi berupa KTP, pasfoto, dan ijazah minimal S-1.
Direktur Relawan Jurnal Indonesia, Arbain, menyampaikan komitmen RJI untuk berkontribusi dalam peningkatan kualitas pendidikan melalui penguatan kompetensi tenaga pendidik. Ia berharap pelatihan tersebut dapat memberikan manfaat bagi pengembangan kapasitas guru, khususnya dalam menghasilkan karya ilmiah.
“RJI berkomitmen untuk melakukan kemajuan pendidikan. Kegiatan ini diharapkan dapat membuat guru lebih kompeten dan diharapkan dapat bermanfaat untuk guru pendidikan,” ujar Arbain.
Dirjen Bimas Hindu, Prof. I Nengah Duija, mengapresiasi perhatian pemerintah, khususnya Presiden, Wakil Presiden, dan Menteri Agama, terhadap peningkatan kualitas guru melalui program sertifikasi pendidik. Namun, ia menegaskan bahwa sertifikasi bukanlah akhir dari proses pengembangan profesional. Guru harus terus meningkatkan kapasitas diri agar mampu menjawab tantangan pendidikan yang terus berkembang.
Menurut Prof. I Nengah Duija, penguasaan teknologi menjadi salah satu kompetensi penting bagi guru. Meski demikian, pemanfaatannya harus tetap menempatkan manusia dan nilai-nilai kemanusiaan sebagai landasan utama dalam proses pendidikan.
“Guru tidak boleh lepas dari bagaimana eksistensi kita sekarang ini. Tidak boleh kalah dengan teknologi. Meskipun teknologi itu adalah sesuatu yang kita butuhkan, teknologi tidak boleh menjadi ideologi, tapi teknologi harus bisa membantu tugas Bapak/Ibu sekalian,” tegasnya.
Ia menjelaskan, adaptasi teknologi dalam pendidikan tidak semata-mata berorientasi pada penguasaan perangkat digital, tetapi juga harus memberikan kontribusi terhadap pembentukan karakter dan nilai kemanusiaan peserta didik.
“Adaptasi teknologi harus betul-betul memberikan kontribusi kepada kemanusiaan, agar anak didik kita tidak lahir dari sebuah teknologi yang hampa dengan nilai-nilai kemanusiaan,” tambahnya.
Selain penguasaan teknologi, Dirjen Bimas Hindu mendorong guru untuk memperkuat budaya literasi dan meningkatkan kepercayaan diri dalam mengembangkan gagasan ilmiah. Menurutnya, guru memiliki tanggung jawab tidak hanya dalam proses pembelajaran di kelas, tetapi juga dalam mempersiapkan kualitas generasi penerus bangsa.
“Guru-guru kita dari seluruh Indonesia adalah guru-guru yang hebat, yang selalu berpikir tentang masa depan anak bangsa. Meskipun sudah melampaui sertifikasi, tugas kita harus terus berkembang,” ujarnya.
Dirjen Bimas Hindu juga mengajak para guru memanfaatkan kemampuan dan pengalaman mengajar untuk menghasilkan karya tulis yang dapat dipublikasikan dalam jurnal ilmiah. Ia menilai publikasi ilmiah menjadi salah satu sarana bagi guru untuk mengembangkan pengetahuan sekaligus memperluas kontribusi terhadap dunia pendidikan.
“Menulis jurnal bukan suatu yang mudah, tapi tidak juga sesuatu yang sulit. Ketika kita memiliki kesempatan dan memiliki gagasan, maka kesulitan itu akan menjadi mudah,” jelasnya.
Melalui pelatihan dan uji kompetensi tersebut, para guru diharapkan mampu mengembangkan gagasan menjadi artikel ilmiah yang memenuhi kaidah penulisan dan berpeluang dipublikasikan. Dengan demikian, pengalaman serta praktik baik dalam penyelenggaraan pendidikan Widyalaya dapat terdokumentasi dan menjadi referensi bagi pengembangan pendidikan Hindu.
Pada kesempatan tersebut, Dirjen Bimas Hindu secara resmi membuka pelatihan. Ia juga mengungkapkan bahwa dalam dua tahun terakhir telah berdiri 157 satuan pendidikan Widyalaya di berbagai wilayah Indonesia. Pertumbuhan tersebut, menurutnya, perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas tenaga pendidik agar pengembangan pendidikan Widyalaya tidak hanya ditandai oleh bertambahnya jumlah satuan pendidikan, tetapi juga peningkatan mutu pembelajaran.