JAKARTA (Bimas Hindu) – Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama, Prof. I Nengah Duija, mengingatkan pentingnya menempatkan etika dan nilai Dharma sebagai landasan dalam penguasaan ilmu pengetahuan. Tanpa disertai tanggung jawab moral, ilmu pengetahuan justru berpotensi menjadi ancaman bagi kehidupan manusia dan keberlangsungan peradaban.
Pesan tersebut disampaikan Dirjen Bimas Hindu Prof. I Nengah Duija dalam Dharma Wacana Hari Suci Saraswati dan Pujawali ke-94 Pura Adhitya Jaya Rawamangun, Jakarta Timur, Sabtu (31/10/2026). Kegiatan yang mengusung tema “Dengan Sraddha dan Bhakti, Meneguhkan Dharma untuk Mewujudkan Keharmonisan, Kemandirian Ekonomi dan Kedamaian” itu menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman umat Hindu tentang pentingnya ilmu pengetahuan yang berlandaskan nilai moral dan spiritual.
Dalam Dharma Wacananya, Dirjen Bimas Hindu Prof. I Nengah Duija menyoroti tantangan perkembangan ilmu pengetahuan dan derasnya arus informasi di era digital. Menurut dia, kemudahan memperoleh informasi harus diimbangi kemampuan membedakan kebenaran serta tanggung jawab dalam memanfaatkan pengetahuan.
“Ilmu itu perlu ada etika. Kalau ilmu tanpa etika, justru yang akan menghancurkan peradaban kita. Tetapi etika tanpa ilmu juga tidak punya legitimasi kalau kita berbicara soal kebenaran,” ujarnya.
Untuk memperkuat pemahaman tersebut, Prof. I Nengah Duija mengangkat kisah tiga murid Begawan Domya dalam Adi Parwa, yakni Sang Arunika, Sang Utamanyu, dan Sang Weda. Ketiga kisah tersebut menggambarkan proses pembelajaran yang tidak hanya menuntut kecerdasan, tetapi juga kesungguhan, kedisiplinan, kesetiaan, dan tanggung jawab.
Kisah Sang Arunika mengajarkan arti kesungguhan dalam menjalankan amanah guru. Ketika pematang sawah yang dibangunnya tidak mampu menahan luapan air, ia berusaha membendungnya dengan tubuh sendiri. Tindakan tersebut mencerminkan kesetiaan dan tanggung jawab seorang murid terhadap tugas yang dipercayakan kepadanya.
Sementara itu, perjalanan Sang Utamanyu mengandung pelajaran tentang ketekunan, disiplin, dan pengendalian diri. Berbagai ujian yang dihadapinya menunjukkan bahwa proses memperoleh pengetahuan membutuhkan kesabaran serta kesanggupan menjalani tahapan pembelajaran.
Adapun kisah Sang Weda dan muridnya, Sang Utangka, menekankan pentingnya kepercayaan, kesetiaan, dan integritas dalam hubungan guru dan murid. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam membangun proses pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademis, tetapi juga pembentukan karakter.
Prof. I Nengah Duija menegaskan, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang menguasai pengetahuan dan memiliki kecakapan intelektual. Proses pendidikan juga harus membentuk karakter serta integritas agar ilmu yang diperoleh digunakan secara benar dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Pendidikan dan ilmu pengetahuan, etika ini harus benar-benar menjadi pedoman bagi siapa pun yang mencari ilmu di dunia ini. Jangan mencari ilmu dengan cara yang tidak benar dan tidak sesuai dengan apa yang diamanatkan,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa Hari Suci Saraswati tidak semestinya berhenti pada pelaksanaan persembahyangan dan penghormatan terhadap ilmu pengetahuan. Peringatan hari suci tersebut harus diwujudkan melalui peningkatan kesungguhan dalam belajar, penghargaan terhadap pengetahuan, serta pengamalan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Prof. I Nengah Duija, pengetahuan, agama, dan seni merupakan tiga unsur yang saling melengkapi dalam membangun kehidupan manusia. Pengetahuan membantu manusia mempermudah kehidupannya, agama memberikan arah dan pedoman, sedangkan seni membentuk kepekaan rasa serta kehalusan budi pekerti.
“Ilmu adalah memudahkan hidup, agama mengarahkan hidup, seni menghaluskan hidup,” tuturnya.
Melalui momentum Hari Suci Saraswati, Dirjen Bimas Hindu mengajak umat Hindu memaknai ilmu pengetahuan tidak sebatas sebagai sarana meningkatkan kecerdasan, tetapi juga sebagai tanggung jawab untuk menjaga kebenaran dan kemanusiaan. Penguasaan ilmu yang disertai etika, integritas, dan pengamalan Dharma menjadi landasan penting dalam membangun manusia berkarakter sekaligus peradaban yang bermartabat.