Yogyakarta (Bimas Hindu) – Suasana tenang menyelimuti SMPN 1 Yogyakarta pada Rabu (06/05/2026) pagi. Di antara ratusan siswa kelas IX yang sedang fokus menghadapi Ujian Sekolah Berbasis Daerah (USBD), terdapat dua siswi, Cistha Janur Swasti dan Ni Komang Putri C. R., yang sedang menempuh ujian mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu.
Meskipun dilaksanakan secara digital menggunakan aplikasi Geschool melalui gawai masing-masing, kekhidmatan ujian tetap terasa kental. Bagi Cistha dan Putri, ujian ini bukan sekadar menjawab soal di layar ponsel, melainkan refleksi dari pemahaman spiritual yang telah mereka pelajari selama tiga tahun di bangku SMP.
Cistha dan Ni Komang hanyalah potret kecil dari sebaran siswa Hindu yang sedang berjuang. Berdasarkan data teknis pelaksanaan, tercatat sebanyak 26 siswa beragama Hindu yang mengikuti USBD tahun ini. Uniknya, ke-26 siswa tersebut tersebar di 20 SMP yang berbeda di wilayah Kabupaten dan Kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Penyebaran ini menunjukkan betapa inklusifnya pendidikan di DIY, di mana setiap siswa mendapatkan hak yang sama untuk menempuh ujian agama mereka meski berada di sekolah dengan latar belakang yang beragam.
Untuk memastikan hak-hak pendidikan keagamaan terpenuhi dengan baik, Bimas Hindu Kanwil Kemenag DIY menerjunkan tim monitoring yang terdiri dari Riyanta, S.Ag dan Hari Gunarto, SE. Kehadiran mereka disambut hangat oleh Ketua Panitia USBD, E. Emma Widyaningsih, M.Pd., serta jajaran pengawas sekolah.
"Sekolah telah mempersiapkan ruang ujian dengan sangat baik dan kondusif. Kami melihat administrasi lengkap dan prosedur distribusi soal berjalan sesuai aturan," ujar tim monitoring saat meninjau lokasi.
Monitoring ini menegaskan bahwa setiap siswa, tanpa memandang jumlahnya di satu sekolah, mendapatkan perhatian dan fasilitas yang setara untuk meraih masa depan yang cerah melalui pendidikan agama yang inklusif.
Zaman telah berubah, begitu pula dengan cara Cistha dan kawan-kawan menempuh ujian. USBD kali ini sepenuhnya memanfaatkan teknologi digital melalui aplikasi Geschool. Berikut adalah fakta menarik di balik pelaksanaan ujian digital tersebut:
- Kemandirian Perangkat: Siswa menggunakan handphone pribadi masing-masing untuk mengerjakan soal, menciptakan suasana ujian yang lebih personal namun tetap diawasi ketat.
- Solusi Infrastruktur: Pihak sekolah tidak membiarkan kendala teknis menghambat prestasi. Bagi siswa yang mengalami masalah pada gawai atau koneksi internet, panitia telah menyiagakan Laboratorium Komputer sebagai fasilitas cadangan.
- Kesiapan Logistik: Seluruh administrasi, mulai dari daftar hadir hingga berita acara, telah tersedia lengkap sesuai standar prosedur operasional.
Secara umum, pelaksanaan ujian yang dimulai sejak pukul 07.30 WIB ini berlangsung tertib dan disiplin. Para siswa menunjukkan integritas tinggi, sementara pengawas ruang menjalankan tugasnya dengan ketat namun tetap suportif.
Setelah tingkat SMA menyelesaikan ujian pada 1 April lalu, dan tingkat SMP pada 6 Mei ini, tongkat estafet ujian selanjutnya akan diteruskan oleh siswa tingkat SD yang dijadwalkan mengikuti USBD pada Rabu, 20 Mei 2026 mendatang.