Pegatwakan, Momentum Melepaskan Diri dari Sifat Buruk Menuju Jalan Dharma

Penyuluh Agama Hindu Kemenag Klungkung memberikan pembinaan kepada warga binaan Rutan Kelas IIB Klungkung tentang makna Hari Suci Buda Kliwon Pegatwakan

Klungkung (Bimas Hindu) Hari Suci Buda Kliwon Pegatwakan bukan sekadar penanda berakhirnya rangkaian Hari Suci Galungan atau tradisi melepas penjor. Lebih dari itu, Pegatwakan menjadi momentum bagi umat Hindu untuk melakukan introspeksi dan melepaskan berbagai sifat buruk yang menghambat perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik.

Pesan tersebut disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung saat memberikan pembinaan kepada 48 warga binaan Rutan Kelas IIB Klungkung, Selasa (21/7/2026). Kegiatan pembinaan mental dan spiritual ini merupakan agenda rutin yang telah berlangsung sejak 2010.

Penyuluhan berlangsung interaktif. Warga binaan antusias mengikuti materi dan berdiskusi mengenai makna Pegatwakan serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

"Hari suci Buda Kliwon Pegatwakan mengajarkan kita tentang pentingnya pegat awak, yaitu memutus atau melepaskan hal-hal yang mengikat diri kita pada sifat-sifat buruk. Maknanya bukan memutus hubungan dengan keluarga atau orang lain, tetapi memutus kemarahan, kebencian, iri hati, keserakahan, dan kebiasaan yang menjauhkan kita dari jalan Dharma," papar Penyuluh Agama Hindu Kemenag Klungkung, Sri Kusuma Dewi.

Menurut para penyuluh, makna Pegatwakan semakin relevan di era digital ketika masyarakat dibanjiri arus informasi dan interaksi di media sosial. Momentum hari suci ini mengingatkan setiap orang untuk tidak hanya sibuk melihat kehidupan orang lain, tetapi juga berani mengevaluasi diri sendiri.

"Momentum Buda Kliwon Pegatwakan mengajak kita bertanya kepada diri sendiri, 'Apa yang perlu saya lepaskan hari ini?' Mungkin rasa dendam, kebiasaan berkata kasar, kecanduan gawai, atau kebiasaan menunda berbuat baik. Jika hal-hal itu mampu kita lepaskan, maka hidup akan menjadi lebih damai dan pikiran terasa nyaman," jelas Penyuluh Agama Hindu Kemenag Klungkung, Kadek Cahyadi.

Pembinaan ini juga mengajak warga binaan meneladani nilai-nilai yang diajarkan dalam Bhagawad Gita Bab XVI, yakni menumbuhkan sifat-sifat ilahi seperti kejujuran, kasih sayang, pengendalian diri, dan tidak mudah marah sebagai bekal menjalani kehidupan yang lebih baik.

Para peserta didorong untuk mulai menerapkan perubahan dari hal-hal sederhana, seperti menjaga tutur kata, bijak menggunakan media sosial, saling memaafkan, memperbanyak rasa syukur, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama.

Pembina Kepribadian Rutan Kelas IIB Klungkung, I Wayan Heri Kristiana, mengapresiasi pembinaan keagamaan yang rutin diberikan oleh Penyuluh Agama Hindu Kemenag Klungkung. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan manfaat nyata bagi perkembangan mental dan spiritual warga binaan.

"Penyuluhan kepada warga binaan yang rutin digelar setiap minggu memberikan dampak positif. Materi yang disampaikan para penyuluh dapat menambah wawasan warga binaan, baik secara rohani maupun mental," ujarnya.

Melalui pembinaan ini, warga binaan diharapkan mampu memaknai Pegatwakan bukan hanya sebagai tradisi melepas penjor, tetapi juga sebagai momentum membebaskan diri dari sifat-sifat negatif, memperkuat pengendalian diri, serta membangun karakter yang lebih baik sebagai bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.

Kegiatan ini sekaligus menjadi implementasi Asta Protas Kementerian Agama RI, khususnya program Layanan Keagamaan Berdampak, yang menghadirkan pembinaan spiritual secara berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk warga binaan pemasyarakatan.


Berita Daerah LAINNYA