Menembus Batas Ritual

Bimas Hindu dan PHDI Banten Tekankan Pentingnya Kedalaman Tattwa dalam Beragama

Para peserta kegiatan Dharma Tula bertajuk "Tantra: Ajaran Kuno Nusantara"

Tangerang Selatan (Bimas Hindu)  – Pengamalan ajaran agama Hindu di era modern dituntut untuk melangkah lebih jauh dari sekadar pelaksanaan ritual fisik (Upacara dan Upakara). Guna membangun fondasi spiritualitas umat yang cerdas, kokoh, dan berbasis pada kedalaman esensi ajaran (Tattwa), Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Banten bersinergi dengan Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Banten sukses menyelenggarakan kegiatan Dharma Tula bertajuk "Tantra: Ajaran Kuno Nusantara".

Kegiatan yang berlangsung khidmat di Parahyangan Jagat Guru, Tangerang Selatan, pada Sabtu (6/6/2026) ini dihadiri oleh puluhan umat Hindu dengan penuh antusiasme. Momentum ini menjadi wadah penting untuk meluruskan berbagai miskonsepsi sekaligus memurnikan pemahaman teologi Hindu Nusantara.

Dalam sambutannya, Pembimas Hindu Provinsi Banten, Eko Sudono, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa keindahan upacara Hindu di Nusantara akan jauh lebih bermakna dan berdaya magis ketika umat memahami filosofi terdalam yang terkandung di dalamnya.

"Upacara dan upakara adalah sarana atau medium yang sangat indah, namun Tattwa adalah jiwa dan esensinya. Kita ingin umat Hindu hari ini tidak hanya berhenti pada tataran 'apa yang dipersembahkan', tetapi juga memahami secara mendalam 'mengapa' dan 'bagaimana' ajaran tersebut menuntun kesadaran batin kita," ujar Pembimas Hindu Banten.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pemahaman Tattwa yang utuh sangat krusial dalam menghadapi tantangan era digital. Dengan pemahaman yang matang, umat tidak akan mudah goyah oleh informasi keliru dan mampu menjadikan ajaran kuno Nusantara sebagai solusi spiritual yang adaptif dalam kehidupan modern.

Untuk mengupas tuntas teologi tersebut, kegiatan Dharma Tula ini menghadirkan narasumber akademisi dan praktisi spiritual Hindu, Jero Mangku I Ketut Sandika, S.Pd.H., M.Pd.H. Dalam pemaparannya, ia membedah bagaimana filosofi Tantra telah lama mengakar dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan asli Nusantara.

Jero Mangku Sandika meluruskan stigma negatif yang sering kali disematkan pada ajaran Tantra di tengah masyarakat modern. Ia menegaskan bahwa Tantra sesungguhnya adalah sebuah metodologi spiritual yang sangat praktis, luhur, dan transformatif. Melalui pemanfaatan Yantra (sarana/simbol), Mantra (getaran suara suci), dan Tantra (laku spiritual), umat dibimbing untuk mencapai penyatuan kesadaran dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta menjaga keharmonisan alam semesta.

Langkah proaktif peningkatan literasi keagamaan berbasis Tattwa ini tidak berdiri sendiri. Upaya ini merupakan implementasi nyata di tingkat daerah yang sangat selaras dengan arah kebijakan nasional dalam Rencana Strategis (Renstra) Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI Periode 2025–2029.

Di bawah payung besar program kerja Ditjen Bimas Hindu, penguatan literasi dan pemurnian ajaran keagamaan diarahkan pada program Peningkatan Kualitas Pemahaman dan Pengamalan Keagamaan (Sadhana/Upasana) serta Layanan Keagamaan Berdampak. Kebijakan ini berkomitmen untuk mendorong umat agar memiliki literasi susastra suci yang kuat, sehingga mampu melahirkan umat Hindu yang mandiri secara spiritual, moderat, serta aktif berkontribusi positif bagi harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara.

Melalui sinergi berkelanjutan antara pemerintah dan lembaga keagamaan seperti PHDI, kegiatan Dharma Tula seperti ini diharapkan terus bergulir. Dengan demikian, pengamalan ajaran Hindu di Indonesia dapat terus bertransformasi menjadi laku batin yang mencerahkan, membawa kedamaian, dan memuliakan nilai-nilai kemanusiaan.


Berita Daerah LAINNYA