Singaraja (Bimas Hindu) — Penerapan nilai-nilai ekoteologi ke dalam aksi konservasi kawasan desa terus diakselerasi oleh mahasiswa perguruan tinggi keagamaan Hindu. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja menginisiasi penanaman bibit pohon kelapa gading (nyuh gading) di sepanjang kawasan perbatasan Desa Bengkel, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, (Minggu, 01/11/2026).
Aksi penghijauan kawasan perbatasan ini dilaksanakan secara bergotong royong bersama Klian Desa Adat serta jajaran perangkat Kantor Perbekel Desa Bengkel.
Pemilihan pohon kelapa gading dinilai strategis karena memadukan fungsi ekologis sebagai peneduh dan penanda batas alamiah wilayah desa (living boundary), sekaligus melestarikan flora yang esensial sebagai sarana upakara dalam tradisi keagamaan Hindu Bali.
Inisiatif lingkungan ini selaras dengan arah kebijakan Kementerian Agama Republik Indonesia di bawah kepemimpinan Menteri Agama melalui Asta Prioritas 2025–2029, khususnya pada pilar penguatan ekoteologi dan gerakan Kemenag Berdampak. Konsep ini menegaskan keterhubungan spiritual antara penghormatan kepada Sang Pencipta dengan tanggung jawab menjaga kelestarian bumi pertiwi.
Koordinator Desa Mahasiswa KKN IAHN Mpu Kuturan di Desa Bengkel, I Kadek Tedy Dina Angsana, menjelaskan bahwa penanaman vegetasi sakral di perbatasan wilayah merupakan simbol keharmonisan relasi manusia dengan lingkungannya.
“Penanaman nyuh gading di titik-titik batas desa ini adalah wujud nyata kepedulian terhadap kelestarian ekosistem yang berakar pada kearifan lokal. Kelapa gading memiliki kedudukan penting dalam tatanan upakara Hindu. Kami berharap tanaman ini tumbuh lestari menjadi peneduh kawasan perbatasan sekaligus penopang kebutuhan ritual masyarakat adat secara berkelanjutan,” ujar Tedy.
Tidak hanya melakukan aksi tanam pohon, tim mahasiswa KKN IMK turut memperluas gerakan ekoteologi melalui edukasi lingkungan sejak usia dini dengan menyambangi SDN 1, SDN 2, dan SDN 3 Desa Bengkel. Di hadapan dewan guru dan para siswa, mahasiswa memberikan pembekalan pemilahan sampah organik dan anorganik, bahaya limbah plastik, serta penerapan konsep kearifan lokal teba modern yakni revitalisasi pekarangan belakang rumah tradisional Bali sebagai sentra pengelolaan sampah organik mandiri.
Tedy menambahkan, penguatan literasi ekologi bagi anak-anak sekolah dasar menjadi investasi jangka panjang agar generasi penerus memiliki kesadaran menjaga kesucian lingkungan desa.
Melalui aksi kolaboratif konservasi tanaman upakara dan literasi sanitasi lingkungan ini, Ditjen Bimas Hindu terus mendorong sivitas akademika PTKHN untuk menjadi motor penggerak transformasi desa ramah lingkungan berbasis nilai-nilai luhur kearifan nusantara.
Kontributor: Putu Rika Mahardika